Pemulihan Arus Kereta Jarak Jauh, PT KAI Gencarkan Diskon Tiket
TEMPO.CO | 28/09/2020 03:10
Petugas saat memberikan himbauan kepada para penumpang KRL Commuter Line untuk tetap memakai masker dan menjaga jarak di Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Sabtu, 19 September 2020. KRL akan beroperasi mulai pukul 04.00 hingga pukul 20.00 WIB, dengan kereta pe
Petugas saat memberikan himbauan kepada para penumpang KRL Commuter Line untuk tetap memakai masker dan menjaga jarak di Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Sabtu, 19 September 2020. KRL akan beroperasi mulai pukul 04.00 hingga pukul 20.00 WIB, dengan kereta pemberangkatan pertama memasuki wilayah DKI Jakarta sekitar pukul 05:00 WIB dan kereta-kereta terakhir meninggalkan wilayah DKI Jakarta sekitar pukul 19:00 WIB. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

TEMPO.CO, Jakarta – PT Kereta Api Indonesia (persero) atau PT KAI kembali menawarkan potongan tarif tiket untuk menggenjot volume perjalanan sejumlah rute jarak jauh. Rentetan diskon yang sempat digeber perseroan saat libur nasional pada bulan lalu kembali diberlakukan pada peringatan ulang tahun KAI, hari ini.

“Ini kado kepada masyarakat dalam hal peningkatan pelayanan,” ucap Kepala Hubungan Masyarakat KAI Daerah Operasi 1 Jakarta, Eva Chairunisa, seperti dikutip Koran Tempo edisi Senin 28 September 2020.

Kali ini, operator tunggal kereta api itu mengobral diskon hingga 25 persen di tujuh rute jarak jauh. Namun, penerapannya terbatas pada perjalanan tertentu di kelas eksekutif dan ekonomi.

Merujuk data KAI, potongan berlaku untuk empat perjalanan kereta kelas eksekutif dari Stasiun Gambir ke Stasiun Gubeng dan Stasiun Pasar Turi di Surabaya, serta ke Stasiun Solo Balapan di Yogyakarta. Diskon pun menyasar tiga rute ekonomi di jalur Jakarta – Malang dan Jakarta – Surabaya.

Vice President Public Relations PT KAI, Joni Martinus, mengatakan volume penumpang per September naik 7 persen dibandingkan Agustus lalu. “Bulan ini kami sudah melayani rata-rata 60 ribu pelanggan per hari, sedangkan bulan lalu hanya 56 ribu,” ujarnya.

Saat ini perseroan masih berupaya memulihkan okupansi perjalanan reguler, khususnya rute antar kota yang nyaris sepenuhnya berhenti semasa pembatasan sosial berskala besar dan larangan mudik pada pertengahan 2020. Hingga akhir Agustus lalu, perusahaan baru bisa mengaktifkan 199 dari total 532 jadwal kereta reguler.

Artinya, baru 37 persen frekuensi KAI yang aktif dari kapasitas normalnya, mencakup kereta jarak jauh, jarak dekat, dan kereta perkotaan. Pada pertengahan Juni lalu, saat kapasitas masih berkisar 22 persen, manajemen hanya mengandalkan rute jarak dekat dan kereta rel listrik kawasan Jabodetabek.

Peningkatan kapasitas perjalanan pun dibarengi dengan penambahan titik pelayanan rapid test. Dokumen kesehatan masih diwajibkan untuk penumpang rute kereta jarak jauh. Hingga 22 September lalu, sudah ada 21 stasiun penyedia rapid, terus bertambah dari hanya 12 stasiun saat layanan itu diluncurkan pada 29 Juli 2020.

Dari catatan KAI, layanan rapid stasiun sudah dipakai oleh 126 ribu penumpang, atau oleh rata-rata 2.200 pengguna per hari. Peserta tes terbanyak ada Stasiun Pasar Senen, mencapai 30 ribu orang sejak awal peluncurannya. Joni memastikan harga tes di stasiun dipertahankan sebesar Rp 85 ribu

“Diharapkan mobilitas masyarakat semakin meningkat,” tuturnya.

Dalam wawancara khusus dengan Tempo, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Didiek Hartyanto mengatakan entitasnya masih berjuang membenahi keuangan. Perusahaan bisa untung hingga Rp 2 triliun pada 2019, dari total pendapatan kasar Rp 22,6 triliun. Bisnis KAI mulai terganggu saat rasio pendapatan Rp 23 miliar per hari anjlok hingga hanya Rp 400 juta per hari, atau turun 93 persen.

“Turun begitu ada imbauan kerja dari rumah,” ujar dia. “Pada akhir Maret pun operasional kami tersisa sekitar 10 persen,”

Ketua Forum Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Aditya Dwi Laksana, menilai laju permintaan kereta jarak jauh bakal sulit didongkrak selama penumpang dibebani kewajiban tes kesehatan.

Menurut dia, pemerintah bisa mempertimbangkan penghapusan aturan itu mengingat operator kereta sudah menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat, mulai dari anjuran penggunaan pakaian lengan panjang, penggunaan pelindung wajah, hingga isolasi penumpang yang sakit.

“Kalau tidak demand tak akan pulih,” katanya.

Baca juga: Ini Daftar 21 Stasiun Kereta yang Melayani Rapid Test Seharga Rp 85 Ribu

FRANSISCA CHRISTY ROSANA | YUSUF MANURUNG | YOHANES PASKALIS


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT