Cegah Covid-19, Tebuireng Larang Kunjungan Orang Tua Santri
TEMPO.CO | 28/09/2020 07:22
Santri Pondok Pesantren Tebuireng di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, bersiap pulang ke daerah asal pada Jumat, 27 Maret 2020. Pengurus Pesantren Tebuireng memulangkan santri untuk meminimalkan risiko penularan Corona. (ANTARA Jatim/HO Pesantren Tebuireng)
Santri Pondok Pesantren Tebuireng di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, bersiap pulang ke daerah asal pada Jumat, 27 Maret 2020. Pengurus Pesantren Tebuireng memulangkan santri untuk meminimalkan risiko penularan Corona. (ANTARA Jatim/HO Pesantren Tebuireng)

TEMPO.CO, JakartaPondok Pesantren Tebuireng, Jawa Timur melarang wali santri untuk menjenguk santri di pesantren sementara waktu demi mencegah penularan Covid-19.

"Kami memahami besarnya kerinduan wali santri terhadap anaknya, terutama santri baru yang mulai mondok 30 Agustus lalu. Tapi demi keselamatan bersama, protokol kesehatan harus dipatuhi semua pihak," kata Juru Bicara Gugus Tugas Pesantren Tangguh Tebuireng Nur Hidayat di Jombang, Ahad, 27 September 2020.

Saat ini, kata Hidayat, pesantren menerapkan protokol kesehatan yang cukup ketat mengingat hingga kini masih di masa pandemi Covid-19. Sebelumnya, pesantren sempat memulangkan ribuan santri untuk pencegahan penyebaran virus.

Pelarangan kunjungan wali santri itu termasuk dalam tiga langkah utama evaluasi kedisiplinan warga pesantren dalam pemenuhan protokol kesehatan. Evaluasi tersebut dilakukan terhadap seluruh elemen yang terlibat dalam kegiatan operasional rutin pesantren.

Langkah kedua adalah penerapan sanksi terhadap pelanggar protokol kesehatan sebagai upaya peningkatan disiplin santri dan warga pesantren dalam pemenuhan protokol kesehatan. Ada sanksi berupa membaca satu juz Al-Quran bagi santri yang tidak memakai masker saat beraktivitas di luar kamar.

Langkah ketiga, kata Hidayat, adalah deteksi dini terhadap setiap santri yang memiliki keluhan sakit. "Ini dilakukan dengan melibatkan pembina kamar santri dan tim pusat kesehatan pesantren," ujar mantan Wakil Sekretaris PWNU Jatim ini.

Menurut Hidayat, deteksi dini ini penting dilakukan mengingat potensi penyebaran virus di lingkungan pesantren juga masih mungkin terjadi. "Perkembangan global dan nasional selama enam bulan terakhir membuktikan, siapapun bisa terkena virus ini. Jadi deteksi dini terhadap gejala khusus yang mengarah merupakan langkah penting dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19," ujarnya.

Dalam satu pekan terakhir, Pesantren Tebuireng Jombang juga telah melakukan karantina ulang beberapa santri yang memiliki gejala khusus serta memberikan treatment untuk pemulihan mereka. "Tapi, sejauh ini tidak satu pun santri yang terkonfirmasi positif," kata Hidayat.

Pesantren juga melakukan uji cepat antigen kepada seluruh warga pesantren untuk mendeteksi ada tidaknya warga pesantren yang terkena virus ini. Uji cepat antigen tersebut diyakini memiliki validitas sekitar 90 persen dalam mendeteksi keberadaan Covid-19.

Dalam uji cepat tersebut juga diikuti seluruh santri termasuk jajaran pengurus bahkan keluarga pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang. Dengan itu, diharapkan bisa sedini mungkin mencegah penyebaran Covid-19"Dengan ikhtiar dan 'taqarrub' maksimal, semoga seluruh warga pesantren dijauhkan dari wabah ini," kata Hidayat.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT