BIN Jelaskan Soal Hasil Tes Swab yang Diduga Tidak Akurat
TEMPO.CO | 28/09/2020 09:40
BIN Jelaskan Soal Hasil Tes Swab yang Diduga Tidak Akurat
Seorang tenaga kesehatan yang mengenakan alat pelindung diri lengkap dibantu petugas Linmas melakukan tes usap (swab test) COVID-19 pada anak berkebutuhan khusus (ABK) di kawasan Pasar Keputran, Surabaya, Jawa Timur, Kamis, 17 September 2020. Pemerintah Kota Surabaya menyediakan 500 kuota tes usap secara gratis bagi warga Surabaya yang melintas di kawasan tersebut. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

TEMPO.CO, Jakarta - Hasil tes swab yang dilakukan Badan Intelijen Negara diduga tak sepenuhnya akurat. Deputi Bidang Komunikasi dan Informasi BIN Wawan Purwanto menjawab tudingan tersebut.

Pertama, terkait masalah akurasi hasil tes, kata Wawan, laboratorium BIN dalam melakukan proses uji spesimen menggunakan dua jenis mesin RT PCR, yaitu jenis qiagen dari Jerman dan jenis thermo scientific dari Amerika Serikat serta memiliki sertifikat lab BSL-2 yang telah didesain mengikuti standar protokol laboratorium. Selain itu, kata Wawan, laboratorium BIN telah melalui proses sertifikasi oleh lembaga sertifikasi internasional, World Bio Haztec (Singapura) serta melakukan kerjasama dengan Lembaga Biologi Molekular Eijkman.

"BIN menerapkan ambang batas standar hasil PCR tes yang lebih tinggi dibandingkan institusi/lembaga lain yang tercermin dari nilai CT qPCR (ambang batas bawah 35, namun untuk mencegah OTG lolos screening maka BIN menaikkan menjadi 40) termasuk melakukan uji validitas melalui triangulasi 3 jenis gen yaitu RNP/IC, N dan ORF1ab," ujar Wawan lewat keterangan tertulis, Senin, 28 September 2020.

Kendati BIN mengklaim telah menerapkan ambang batas standar hasil PCR tes tinggi, tim Majalah Tempo menemukan hasil tes usap yang dilakukan BIN terhadap 16 pegawai Lembaga Administrasi Negara (LAN) dan sejumlah pegawai swasta tidak akurat. Hasil tes usap BIN menunjukkan mereka positif Covid-19, namun setelah sebagian pegawai mengikuti tes mandiri sehari kemudian, hasilnya negatif.

Terkait hal tersebut, Wawan menjelaskan bahwa dewan analis strategis medical intelligence BIN termasuk jaringan intelejen di WHO menjelaskan fenomena hasil tes swab positif menjadi negatif bukan hal yang baru. Hal itu, menurut dia, dapat disebabkan oleh RNA/protein yang tersisa (jasad renik virus) sudah sangat sedikit bahkan mendekati hilang pada treshold sehingga tidak terdeteksi lagi.

Hasil tes positif palsu, ujar Wawan, juga bisa terjadi karena bias pre-analitik, yaitu pengambilan sampel dilakukan oleh dua orang berbeda, dengan kualitas pelatihan berbeda dan SOP berbeda pada laboratorium yang berbeda, sehingga sampel swab sel yang berisi virus Covid tidak terambil atau terkontaminasi.

Penyebab ketiga, kata Wawan, bisa saja karena sensitivitas reagen dapat berbeda terutama untuk pasien yang nilai CQ/CT nya sudah mendekati 40. "Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perbedaan uji swab antara lain adalah kondisi peralatan, waktu pengujian, kondisi pasien, dan kualitas test kit. BIN menjamin kondisi peralatan, metode, dan test kit yang digunakan adalah gold standard dalam pengujian sampel covid-19," ujarnya.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT