Satgas Covid-19: Rapid Test Antigen akan Menggantikan Rapid Test Antibodi
TEMPO.CO | 30/09/2020 05:39
Seorang pekerja diambil sampel darahnya saat menjalani rapid tes serology di Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Jakarta, Selasa, 11 Agustus 2020. Siloam Hospitals Kebon Jeruk (SHKJ) melakukan rapid test serelogy dan PCR Swab secara berkala kepada para tenaga k
Seorang pekerja diambil sampel darahnya saat menjalani rapid tes serology di Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Jakarta, Selasa, 11 Agustus 2020. Siloam Hospitals Kebon Jeruk (SHKJ) melakukan rapid test serelogy dan PCR Swab secara berkala kepada para tenaga kesehatan, staf, dan pekerja pendukung lainnya sebagai upaya untuk menjaga kesehatan dan keamanan bagi para awak rumah sakit tersebut. TEMPO/M Taufan Rengganis

TEMPO.CO, Jakarta - Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, membenarkan bahwa alat rapid test antigen akan segera masuk ke Indonesia. Rapid test antigen  akan menggantikan rapid test antibodi untuk mendeteksi virus corona.

"Kami baru saja mendapat kabar dari WHO bahwa ada berbagai list dari RT PCR termasuk rapid test antigen yang bisa menghasilkan tesnya dalam waktu beberapa menit. Dan tentunya alat ini bisa digunakan untuk di Indonesia sesuai rekomendasi WHO, agar bisa menggantikan rapid test antibodi," ujar Wiku dalam konferensi pers virtual yang disiarkan di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Selasa, 29 September 2020.

Rapid test antigen disebut lebih akurat dibandingkan rapid test antibodi untuk mendeteksi virus corona. "Fungsi screening yang bisa dilakukan rapid test antigen akan lebih efektif sehingga tidak menjadi beban untuk RT PCR sebagai gold standar untuk penegakan diagnosa," ujar Wiku Adisasmito.

Rapid test antigen bisa langsung mendeteksi keberadaan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19, bukan mendeteksi antibodi tubuh terhadap penyakit Covid-19 seperti yang selama ini menjadi fungsi rapid test antibodi.

Oleh karena itu, rapid test antigen lebih akurat dibandingkan rapid test antibodi. Sebab antibodi terkadang belum muncul di awal-awal seseorang terjangkit Covid-19, sehingga terjadi false negative (hasil negatif padahal sebetulnya pasien terinfeksi).


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT