Penjualan Sukuk Ritel SR013 Capai Rp 25,67 Triliun, Investor Milenial Terbanyak
TEMPO.CO | 30/09/2020 05:35
(Ki-ka) Direktur Pembiyaan Syariah DJPPR Dwi Irianti Hadiningdyah dan Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman  melakukan sosialisasi sukuk ritel seri SR012 di kawasan Senayan, Jakarta, Sabtu 29 Februari 2020.
(Ki-ka) Direktur Pembiyaan Syariah DJPPR Dwi Irianti Hadiningdyah dan Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman melakukan sosialisasi sukuk ritel seri SR012 di kawasan Senayan, Jakarta, Sabtu 29 Februari 2020. EKO WAHYUDI l Tempo.

TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah menetapkan hasil penjualan sukuk ritel seri SR013 sebesar Rp 25,67 triliun atau melampaui target pemerintah meski saat ini pasar keuangan sedang diliputi ketidakpastian akibat Covid-19.

Keterangan pers Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan yang diterima di Jakarta, Selasa, 29 September 2020, menyatakan SR013 telah berhasil meraih capaian penjualan terbesar dan investor terbanyak sepanjang penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) ritel online sejak 2018 yaitu 44.803 investor.

Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap besarnya penjualan SR013, antara lain imbalan yang masih cukup menarik meski lebih rendah dari kupon SR012 dan ORI017, proses pembelian mudah dan merupakan produk investasi yang aman dan likuid serta basis investor instrumen ini yang luas.

Selain itu, faktor lainnya adalah banyak warga yang diperkirakan memiliki dana idle karena adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sehingga spending yang menurun memerlukan instrumen investasi yang aman dan likuid, serta adanya SBR004 yang jatuh tempo pada tanggal 20 September 2020.

Jumlah investor terbanyak SR013 berasal dari generasi milenial yaitu sebanyak 16.392 orang atau 36,29 persen. Instrumen ini juga menggaet investor baru sebanyak 16.234 orang atau 36,23 persen dari total investor, dengan 44,92 persen merupakan investor milenial.

Jumlah investor generasi Z atau usia di bawah 19 tahun mencapai 291 investor atau Rp 126,14 miliar dengan rata-rata penjualan Rp 433,48 juta. Jumlah investor generasi Z kali ini jauh lebih tinggi dari SR012 yang hanya 88 investor.

Dari sisi profesi, pegawai swasta merupakan pembeli terbanyak SR013 yaitu mencapai 14.753 investor atau 32,93 persen dengan volume pemesanan Rp 5,55 triliun atau 21,62 persen. Namun, profesi wiraswasta mendominasi volume pemesanan yaitu Rp 12,19 triliun atau 47,51 persen dengan jumlah 14.104 investor atau 31,48 persen dari total investor.

Dari segi wilayah, investor dari Indonesia bagian barat selain DKI Jakarta masih mendominasi pemesanan yaitu mencapai 26.647 investor atau 59,48 persen dengan volume Rp13,79 triliun atau 53,73 persen. Nominal penjualan di wilayah Indonesia timur juga meningkat 155 persen atau Rp 94,75 miliar dibandingkan penjualan SR012.

Dengan catatan itu, rata-rata pemesanan SR013 mencapai Rp 572,86 juta dengan volume pemesanan terbanyak dengan nominal Rp 1 miliar atau 59,73 persen. Sementara itu, jumlah investor yang melakukan pemesanan nominal Rp 1-5 juta sebanyak 4.194 investor atau 9,36 persen.

Dari mitra distribusi, realisasi nominal penjualan terbesar untuk bank konvensional berasal dari PT Bank Central Asia sebesar Rp4,09 triliun dan untuk kategori bank syariah berasal dari Bank Syariah Mandiri sebesar Rp 436,6 miliar.

Untuk kategori perusahaan efek berasal dari PT Trimegah Sekuritas Indonesia Rp 156,39 miliar dan untuk kategori Fintech berasal dari PT Bareksa Portal Investasi Rp 61,68 miliar.

Dengan penerbitan SR013, maka hingga September 2020, pemerintah telah menerbitkan empat instrumen SBN ritel yaitu SBR009, SR012, ORI017 dan SR013 dengan total nominal penerbitan mencapai Rp 58,39 triliun.

ANTARA


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT