Pemerintah Lelang 5 Seri Sukuk dengan Target Rp 10 T, Ini Daftar Kuponnya
TEMPO.CO | 25/10/2020 19:08
(Ki-ka) Direktur Pembiyaan Syariah DJPPR Dwi Irianti Hadiningdyah dan Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman  melakukan sosialisasi sukuk ritel seri SR012 di kawasan Senayan, Jakarta, Sabtu 29 Februari 2020.
(Ki-ka) Direktur Pembiyaan Syariah DJPPR Dwi Irianti Hadiningdyah dan Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman melakukan sosialisasi sukuk ritel seri SR012 di kawasan Senayan, Jakarta, Sabtu 29 Februari 2020. EKO WAHYUDI l Tempo.

TEMPO.CO, Jakarta -  Sukuk dengan tenor panjang diyakini akan menjadi incaran investor pada lelang akan dilaksanakan pada Selasa 27 Oktober 2020. Untuk diketahui, Pemerintah akan melakukan lelang lima seri sukuk dengan target indikatif ditetapkan senilai Rp10 triliun. 

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR Kementerian Keuangan, seri itu terdiri atas SPN-S 14042021 yang jatuh tempo 14 April 2021, PBS-027 dengan kupon 6,5 persen yang jatuh tempo 15 Mei 2023, dan PBS-026 dengan kupon 6,625 persen yang jatuh tempo pada 15 Oktober 2024.

Selain itu, terdapat PBS-025 berkupon 8,375 persen yang jatuh tempo 15 Mei 2033, dan PBS-028 berkupon 7,75 persen yang jatuh tempo pada 15 Oktober 2046.

CIO Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia Ezra Nazula mengatakan bahwa penawaran masuk pada lelang sukuk mendatang akan melampaui target dan lelang sebelumnya.

Dia menjelaskan, terdapat perbedaan jarak (spread) imbal hasil atau yield obligasi tenor pendek dan 10 tahun yang cukup lebar. Hal itu akan membuat kecenderungan peralihan minat investor dari semula ramai masuk ke sukuk dengan tenor pendek menjadi ke sukuk dengan tenor yang lebih panjang.

“Kami melihat investor cenderung mulai shifting dari tenor pendek ke tenor 10 tahun ke atas, itu juga terjadi di lelang obligasi konvensional sebelumnya, hal itu mengingat yield spread yang menarik antara dua tenor tersebut,” ujar Ezra kepada Bisnis, Jumat 23 Oktober 2020.

Senada, Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C. Permana mengatakan bahwa sukuk dengan tenor menengah-panjang akan menjadi incaran seiring dengan ekspektasi pasar terhadap risiko pandemi Covid-19 yang mungkin berlanjut hingga paruh pertama 2021.

Hal itu akan mendorong investor untuk tetap memilih surat berharga sebagai instrumen investasinya hingga tahun depan.

“Melihat perilaku investor dalam negeri dan estimasi recovery setidaknya pada paruh pertama 2021, antara seri PBS-025 dan PBS-026 tenor menengah-panjang dan kupon indikatif menarik akan menjadi salah satu pilihan investor,” papar Fikri kepada Bisnis.

Dia pun memprediksi penawaran yang akan masuk terhadap lelang sukuk berada di kisaran Rp40 triliun hingga Rp50 triliun, jauh melampaui target dan hasil lelang sebelumnya.

Sementara itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan bahwa investor masih akan cenderung berpihak terhadap sukuk dengan seri tenor jangka pendek untuk mengurangi volatilitas pasar yang masih terjadi saat ini.

“Untuk jaga-jaga sentimen pasar yang nantinya mengalami gejolak, jadi sukuk jangka pendek akan lebih intensif. Namun, yang menarik seri PBS-025 tenor 15 tahun dan imbal hasil tinggi, kemungkinan jadi perhatian pasar apalagi untuk investor obligasi yang lebih suka buy and hold,” papar Nico kepada Bisnis.

Dia memprediksi penawaran masuk lelang sukuk mendatang berada di kisaran Rp35 triliun hingga Rp50 triliun. Menurut dia, penawaran lebih tinggi daripada estimasi itu akan mencerminkan animo baru terhadap pasar obligasi dalam negeri.

Di sisi lain, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto mengatakan bahwa permintaan sukuk pada lelang mendatang akan membaik walaupun investor domestik masih mendominasi, terutama oleh perbankan.

Dengan demikian, seri yang paling banyak diincar kemungkinan seri bertenor jangka pendek seiring dengan kecenderungan investor perbankan yang lebih memilih seri bertenor tersebut.

“Namun, tidak menutup kemungkinan dana pensiun dan asuransi akan memasok kontribusi yang lebih tinggi karena ingin mengambil yield yang lebih tinggi, walaupun durasi lebih panjang,” papar Ramdhan kepada Bisnis.

Dia memprediksi penawaran yang akan masuk dapat mencapai Rp30-40 triliun. Angka itu lebih tinggi daripada hasil penawaran sukuk terakhir, Selasa (13/10/2020), yang hanya mencapai Rp25,85 triliun.

Baca: Sri Mulyani Senang Banyak Generasi Milenial Beli Surat Utang Negara


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT