Kemendag: Fluktuasi Harga Tambang Internasional Pengaruhi Biaya Patokan Ekspor
TEMPO.CO | 30/10/2020 07:44
Ilustrasi pertambangan. Shutterstock
Ilustrasi pertambangan. Shutterstock

TEMPO.CO, Jakarta - Fluktuasi harga internasional memengaruhi penetapan harga patokan ekspor (HPE) produk pertambangan yang dikenakan bea keluar (BK) periode November 2020. Dibandingkan dengan HPE periode Oktober 2020, sebagian besar komoditas mengalami penurunan HPE. Ketentuan ini ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perdagangan No. 85 Tahun 2020, tanggal 23 Oktober 2020.

“HPE produk pertambangan periode November 2020 yang mengalami fluktuasi, diantaranya komoditas konsentrat mangan, konsentrat ilmenit, dan bauksit yang telah dilakukan pencucian (washed bauxite) mengalami kenaikan dibandingkan periode bulan lalu. Harga beberapa komoditas produk pertambangan mengalami kenaikan dikarenakan adanya permintaan dunia yang meningkat,” kata Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Didi Sumedi dalam keterangan tertulis, Kamis, 29 Oktober 2020.

Didi menambahkan, komoditas konsentrat tembaga; konsentrat besi; konsentrat besi laterit (gutit, hematit, magnetit); konsentrat timbale; konsentrat seng; konsentrat pasir besi; dan konsentrat rutil mengalami penurunan dikarenakan industri belum stabil sebagai dampak pandemi Covid-19.

Sejumlah produk tambang yang dikenakan bea keluar adalah konsentrat tembaga, konsentrat besi, konsentrat besi laterit, konsentrat pasir besi, pellet konsentrat pasir besi, konsentrat mangan, konsentrat timbal, konsentrat seng, konsentrat ilmenit, konsentrat rutil, dan bauksit yang telah dilakukan pencucian.

Perhitungan harga dasar HPE untuk komoditas konsentrat besi, konsentrat besi laterit, konsentrat pasir besi, konsentrat mangan, konsentrat ilmenit, dan konsentrat rutil bersumber dari Asian Metal dan Iron Ore Fine Australian. Sedangkan konsentrat tembaga, pellet konsentrat pasir besi, konsentrat timbal, konsentrat seng, dan bauksit bersumber dari London Metal Exchange (LME).

Dibandingkan periode sebelumnya, produk pertambangan yang mengalami kenaikan harga ratarata pada periode November 2020 adalah konsentrat mangan(Mn ≥ 49 persen) dengan harga ratarata sebesar US$ 213,63/WE atau naik sebesar 1,04 persen; konsentrat ilmenit (TiO2 ≥ 45 persen) dengan harga rata-rata US$ 289,35/WE atau naik 1,96 persen; dan bauksit yang telah dilakukan pencucian (washed bauxite) (Al2O3 ≥ 42 persen) dengan harga rata-rata US$ 23,88/WE atau naik 1,12 persen.

Sedangkan produk yang mengalami penurunan dibandingkan HPE periode sebelumnya adalah konsentrat tembaga (Cu ≥ 15 persen) dengan harga rata-rata sebesar US$ 2.850,77/WE atau turun sebesar 1,77 persen; konsentrat besi (hematit, magnetit) (Fe ≥ 62 persen dan ≤ 1 persen TiO2) dengan harga rata-rata US$ 103,10/WE atau turun 6,40 persen; serta konsentrat besi laterit (gutit, hematit, magnetit) dengan kadar (Fe ≥ 50 persen dan (Al2O3 + SiO2) ≥ 10 persen) dengan harga rata-rata US$ 52,68/WE atau turun 6,40 persen.

Selain itu, konsentrat timbal (Pb ≥ 56 persen) dengan harga rata-rata US$ 740,22/WE atau turun 6,64 persen; konsentrat seng (Zn ≥ 51 persen) dengan harga rata-rata US$ 597,68/WE atau turun 7,05 persen; konsentrat pasir besi (lamela magnetit-ilmenit) (Fe ≥ 56 persen) dengan harga rata-rata US$ 61,56/WE atau turun sebesar 6,40 persen; dan konsentrat rutil (TiO2 ≥ 90 persen) dengan harga rata-rata US$ 848,44/WE atau turun 0,89 persen.

Sementara itu, pellet konsentrat pasir besi (lamela magnetit-ilmenit) (Fe ≥ 54) dengan harga rata-rata US$ 117,98/WE tidak mengalami perubahan. Menurut Didi, penetapan HPE periode November 2020 ini ditetapkan setelah memperhatikan berbagai masukan tertulis dan koordinasi dari berbagai instansi terkait.

Baca: Pandemi Global Mulai Terkendali, Kinerja Ekspor Industri Mebel Pulih

CAESAR AKBAR


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT