Bank Mandiri Prediksi Kredit Macet 3 hingga 4 Persen di Akhir 2020
TEMPO.CO | 30/10/2020 17:19
Maskot Mandiri COVID Rangers berpose di area anjungan tunai mandiri (ATM) Plaza Mandiri, Jakarta, Selasa 21 Juli 2020. Sebagai dukungan kepada pemerintah dalam memutus penyebaran COVID-19, Bank Mandiri meluncurkan COVID Rangers sebagai maskot dalam penera
Maskot Mandiri COVID Rangers berpose di area anjungan tunai mandiri (ATM) Plaza Mandiri, Jakarta, Selasa 21 Juli 2020. Sebagai dukungan kepada pemerintah dalam memutus penyebaran COVID-19, Bank Mandiri meluncurkan COVID Rangers sebagai maskot dalam penerapan protokol kesehatan di lingkungan kerja Bank Mandiri. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

TEMPO.CO, Jakarta - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. memperkirakan rasio kredit dan pembiayaan bermasalah akan mengalami peningkatan pada akhir tahun 2020. Guna mengantisipasi kondisi tersebut, perseroan mempertebal pencadangan kendati hal itu di satu sisi akan membuat laba semakin tergerus. 

Direktur Manajemen Risiko Bank Mandiri Ahmad Siddik Badruddin mengatakan rasio NPL atau kredit macet perseroan diproyeksi akan sebesar 3-4 persen pada akhir tahun ini. Dengan potensi peningkatan NPL tersebut, bank akan tetap membentuk CKPN secara konservatif.

Peningkatan CKPN tersebut juga sebagai respon atas proyeksi perseroan akan adanya debitur restrukturisasi yang kemungkinan tidak bisa bangkit. Bank Mandiri memproyeksi peningkatan CKPN akan berada pada kisaran Rp18 triliun sampai dengan Rp21 triliun.

"Sebagian dari CKPN itu adalah portion dari akun yang direstrukturisasi karena Covid-19," katanya seperti dikutip Bisnis.com, Jumat 30 Oktober 2020. 

Per akhir September 2020, rasio coverage cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) konsolidasi Bank Mandiri berada di kisaran 205,15 persen sebagai antisipasi penurunan kualitas kredit akibat pandemi Covid-19. Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) perseroan per kuartal III/2020 di level 3,3 persen, naik 80 basis poin dibandingkan periode sama tahun lalu.

Peningkatan CKPN tersebut termasuk salah satu faktor yang membuat laba perseroan menjadi tergerus. Per akhir September 2020, total laba bersih Bank Mandiri turun 30,73 persen (year on year/yoy) menjadi Rp14,03 triliun. 

Adapun, hingga 30 September 2020, Bank Mandiri telah melakukan restrukturisasi kredit terdampak Covid-19 senilai Rp116,4 triliun ke 525.665 debitur. Realisasi restrukturisasi tersebut mencapai 15,5 persen dari total baki debet emiten berkode BMRI ini.

Dari jumlah tersebut sebanyak Rp47,7 triliun atau 77 persen di antaranya merupakan sektor UMKM denga jumlah 406.434 debitur. Sisanya, non-UMKM dengan nilai baki debet Rp68,6 triliun ke 119.231 debitur.

Siddik memproyeksi ada 10 sampai 11 persen debitur yang telah mendapatkan restrukturisasi tetapi kemungkinan tidak dapat bangkit kembali. debitur yang diproyeksi kemungkinan tidak dapat bangkit kembali akan diantispasi pemburukan kualitas kreditnya. Pada tahun depan, jika benar-benar tidak bisa bangkit debitur tersebut kemungkinan akan downgrade menjadi katagori rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL).

"Karena tidak ada gunanya debitur yang sudah mati, kita kan downgrade earlier sebelum POJK 11/2020 berakhir," katanya.

Baca: Laju Kredit Triwulan III Tumbuh 4 Persen, BNI: Berfokus Perbaikan Kualitas Aset


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT