Potensi Sengketa Pemilu AS Diprediksi Sebabkan Ketidakpastian di Pasar Modal
TEMPO.CO | 08/11/2020 13:24
Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). ANTARA
Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). ANTARA

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan pelaku pasar modal dunia masih mewaspadai potensi sengketa pemilihan umum Amerika Serikat (Pemilu AS).

"Di beberapa negara bagian penting yang menentukan perhitungan suara, Trump (Presiden AS Donald Trump) telah mengajukan gugatan hukum sehingga menaikkan ketidakpastian pasar," ujar Hans dalam keterangan tertulis, Ahad, 8 November 2020.

Sengketa pemilu, menurut Hans, sangat mungkin terjadi akibat metode pemilihan umum yang dilakukan di Negeri Abang Sam. Peraturan setempat mengizinkan penggunaan pos untuk mengirim surat suara. Akibatnya, pendukung Demokrat yang lebih taat protokol kesehatan banyak mengirim surat suara via pos, sedangkan pendukung Republik banyak datang ke tempat pengambilan suara.

Karena itu, tutur Hans, pada awal penghitungan di beberapa negara bagian yang mengalami pertarungan berat, suara Republik mampu memang. Tetapi setelah surat suara dari pos dihitung, keadaan mulai berbalik.

"Belum lagi di negara bagian yang sangat ketat ini selisih suara kedua partai cukup ketat sehingga menimbulkan risiko diperdebatkan," ujar dia.

Berdasarkan pengamatan Hans, di negara bagian dengan pertarungan ketat seperti Georgia, Pennsylvania, Arizona, dan Nevada, calon presiden dari partai Demokrat, Joe Biden, mampu memimpin setelah surat suara via pos dihitung.

Karena itu, Trump berencana mengajukan gugatan hukum. "Pemilu yang berakhir di pengadilan dikhawatirkan akan membuat pelaku pasar melakukan aksi ambil untung," ujar Hans.

Terlepas perkara sengketa pemilu, Hans memperkirakan pasar saham dunia, termasuk Indonesia, pada pekan depan akan menguat menyambut kemenangan Joe Biden dalam pemilihan presiden Amerika Serikat.

Namun demikian, tutur Hans, pasar akan sangat rawan mengalami aksi ambil untung akibat kenaikan yang banyak pada pekan lalu dan potensi sengketa politik di AS. "Resistance IHSG di level 5,381 sampai 5,500 dan Support di level 5,246 sampai 5,161," ujar dia.

Pemilu Amerika Serikat telah berlangsung tanggal 3 November 2020. Dari hasil prediksi perhitungan tidak resmi, kata Hans, menunjukkan Biden berhasil memenangkan pemilu dengan 290 elektoral.

Demokrat berdasarkan prediksi berhasil memenangkan suara di Georgia lagi sejak terakhir kali tahun 1992 dan Arizona sejak 1996. "Pelaku pasar sangat memperhatikan pemilihan presiden karena mempengaruhi kebijakan Amerika Serikat ke depannya," ujar Hans.

CAESAR AKBAR

Baca juga: Joe Biden Dinyatakan Menang Pilpres AS, IHSG Diprediksi Rawan Aksi Ambil Untung


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT