Dibayangi Kenaikan Kasus Covid-19 Global, Rupiah Diprediksi Melemah Lagi
TEMPO.CO | 20/11/2020 08:45
Aktivitas pelayanan penukaran mata uang asing di kawasan Kwitang, Jakarta, Selasa, 4 Agustus 2020. Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup berbalik menguat 5 poin atau 0,03 persen ke level Rp14.625 per dolar AS pada Selasa (4/8) sore. TEMPO/Tony Hartawan
Aktivitas pelayanan penukaran mata uang asing di kawasan Kwitang, Jakarta, Selasa, 4 Agustus 2020. Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup berbalik menguat 5 poin atau 0,03 persen ke level Rp14.625 per dolar AS pada Selasa (4/8) sore. TEMPO/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi memperkirakan nilai tukar rupiah melanjutkan pelemahan pada perdagangan hari ini, Jumat, 20 November 2020.

"Kemungkinan akan dibuka fluktuatif, namun ditutup melemah sebesar 10-100 poin di level 14.130 sampai 14.200," ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis, Kamis, 19 November 2020.

Pada perdagangan kemarin, rupiah ditutup melemah di level 14.155 per dolar AS. Pada penutupan sehari sebelumnya, rupiah berada di level 14.140 per dolar AS.

Ibrahim mengatakan ada sejumlah sentimen yang memengaruhi nilai tukar rupiah dalam perdagangan kemarin. Salah satunya adalah pandemi Covid-19 yang memburuk dengan cepat terutama di wilayah kekuatan ekonomi, seperti Amerika Serikat dan Eropa.

Kasus Covid-19 global, kata Ibrahim, saat ini telah mencapai lebih dari 56 juta. Akibatnya, sejumlah negara, misalnya di Eropa, juga mesti melakukan kebijakan lockdown skala besar pada aktivitas publik. Sehingga, aktivitas ekonomi sangat lemah.

Penutupan aktivitas juga dilakukan di Kota New York, Amerika Serikat dengan menangguhkan pengajaran secara langsung mulai Kamis untuk menekan penyebaran Covid-19. Selain itu, Australia Selatan memberlakukan lockdown untuk mengekang wabah COVID-19 baru di negara bagian itu, yang membayangi data tenaga kerja positif yang dirilis pada hari sebelumnya.

Selain kasus Covid-19, Ibrahim berujar sentimen yang membayangi pergerakan rupiah juga mengenai Inggris dan Uni Eropa yang menemui jalan buntu untuk mencapai kesepakatan perdagangan sebelum masa transisi Inggris Raya meninggalkan blok ekonomi berakhit pada 1 Januari 2021.

Investor juga, tutur dia, melihat Data klaim pengangguran Amerika Serikat, yang diharapkan akan menentukan langkah The Fed selanjutnya.

Dari dalam negeri, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan tingkat suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate/7DRRR) sebesar 25 basis poin (bps) dari 4 persen menjadi 3,75 persen pada November 2020.

Begitu pula dengan tingkat suku bunga deposit facility dan bunga lending facility masing-masing turun 25 bps menjadi 3 persen dan 4,5 persen. "Di luar dugaan," kata Ibrahim.

Penurunan suku bunga acuan diambil dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi global yang terus membaik. Pertumbuhan ekonomi kuartal III di sejumlah negara mulai membaik. Selain itu, volume perdagangan dan harga komoditas ikut menurun.

Di sisi lain, ketidakpastian mereda di pasar keuangan usai Pemilu AS. Hal ini turut meningkatkan nilai tukar mata uang di dunia, termasuk rupiah.
 
"Keputusan RDG juga mempertimbangkan kondisi ekonomi nasional yang ikut membaik, tercermin dari kontraksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III yang tidak setinggi kuartal II. Permintaan domestik juga mulai membaik secara bertahap," tutur dia.

Baca: Gubernur BI: Masih Undervalued, Rupiah Berpotensi Terus Menguat

CAESAR AKBAR


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT