Ahok Ajak Investor Garap Proyek Kilang: Kita Siap jadi Minoritas
TEMPO.CO | 02/12/2020 21:31
Presiden Joko Widodo bersalaman dengan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat meninjau ke kawasan kilang PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Tuban, Jawa Timur, Sabtu, 21 Desember 2019. Kunjungan tersebut un
Presiden Joko Widodo bersalaman dengan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat meninjau ke kawasan kilang PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Tuban, Jawa Timur, Sabtu, 21 Desember 2019. Kunjungan tersebut untuk melihat secara langsung rencana pembangunan kawasan TPPI yang akan dikembangkan oleh PT Pertamina (Persero) menjadi industri petrokimia nasional. instagram.com/basukibtp

TEMPO.CO, Jakarta - Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok mengajak para investor untuk bergabung dalam proyek pembangunan kilang. "Kemungkinan kerja sama yang terbuka yakni menjadi investor kompleks kilang petrokimia di Indonesia dengan Pertamina," ujar Ahok dalam diskusi di acara 2020 International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas, Rabu, 2 Desember 2020.

Upaya Ahok membuka pintu selebar-lebarnya bagi para penanam modal untuk ikut dalam proyek itu karena pembangunan stand alone refinery dinilai tidak akan memberikan nilai yang ekonomis pada saat ini. Oleh karena itu, Pertamina berencana mengembangkan kilang yang terintegrasi dengan petrokimia.

Ahok menjelaskan, permintaan bahan bakar minyak (BBM) dan produk petrokimia di dalam negeri sangat besar. Hal tersebut seharusnya menjadi kesempatan besar untuk perusahaan migas internasional dan perusahaan migas nasional untuk berinvestasi pada bisnis kilang. "Apabila memang ada investor yang mau masuk ke kilang, kita siap menjadi minoritas dan investor dapat bawa crude oil-nya ke Indonesia," ucapnya.

Lebih jauh, Ahok menyebutkan, minyak mentah yang dibawa ke Indonesia itu akan dilakukan melalui skema BOT (built-operate-transfer) atau dapat dilakukan dengan skema supplier held stock (SHS). 

Nantinya, Pertamina bakal menyerap produk yang telah diolah di dalam negeri itu sesuai dengan harga pasar yang wajar sehingga dapat mengurangi defisit neraca transaksi berjalan Indonesia.

"Anda bisa jadi supplier held stock dan Pertamina jamin beli dengan harga pasar."Secara khusus, Ahok juga membuka penawaran kemitraan dalam pengelolaan Blok Rokan. Hal ini menyusul PT Pertamina (Persero) yang bakal resmi mengelola Blok Rokan setelah proses alih kelola rampung dengan PT Chevron Pasific Indonesia pada Agustus 2021.

Pertamina, kata Ahok, akan menguasai 86 blok migas, termasuk Blok Rokan. Perusahaan migas pelat merah itu diklaim siap untuk menerima tawaran kemitraan dalam pengelolaan Blok Rokan.

"Pertamina fully open untuk strategic partnership baik untuk hulu saja ataupun dalam grup non hulu untuk itu di Rokan, Pertamina siap partnership baik untuk IOC atau NOC. Apply proposal ke kami sekarang" ucap Ahok.

Tak hanya itu, Ahok menjelaskan Pertamina membuka kesempatan untuk kerja sama dalam akuisisi lahan baik untuk lahan migas ataupun lahan panas bumi agar pengembangan bisa lebih masif.

Untuk panas bumi, Ahok menyebut Pertamina siap hanya memegang porsi kemitraan minoritas dalam akuisisi lahan. Menurut dia, Pertamina tidak ingin untuk melakukan pengembangan di dalam negeri ataupun di luar negeri sendirian.

Dia menambahkan hal itu juga berlaku dalam akuisisi lapangan migas di luar negeri. Dia menjelaskan skema kemitraan akan lebih menguntungkan untuk menggali potensi yang lebih ada. "Kami tak mau lakukan baik di dalam maupun luar negeri sendirian lagi dan juga kami butuh dukungan pemerintah bagaimana Pertamina hanya menyisihkan setidaknya 50 persen share di banyak blok migas kami," kata Ahok.

BISNIS

Baca: Di Pertamina Rapat hingga Empat Kali Sepekan, Ahok: Saya Dirut Nyaru Komut


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT