Bappenas Ungkap Tiga Sektor Utama Fokus Pemulihan Ekonomi Nasional
TEMPO.CO | 13/12/2020 10:55
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa.

INFO NASIONAL-Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengungkapkan, The International Monetary Fund memperkirakan ekonomi dunia di 2020 akan terkontraksi sebesar 4,4 persen. Artinya, di muka bumi ini, pertumbuhan ekonomi akan menjadi -4,4 persen.

"Kami memperkirakan ekonomi Indonesia pada 2020 kemungkinan secara full year akan terkontraksi antara 1,8 persen hingga 2,0 persen, dengan perkiraan proses pemulihan yang mengikuti bentuk V-Shape, artinya pemulihan ekonomi yang cukup cepat," katanya.

Suharso melanjutkan, seiring dengan tantangan yang sedang dihadapi di tengah pandemi Covid-19, Kementerian PPN/Bappenas telah melakukan adaptasi dan penyesuaian arah pembangunan Indonesia di 2021 sesuai Rencana Kerja Pemerintah yang mengangkat tema “Mempercepat Pemulihan Ekonomi dan Reformasi Sosial”.

"Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) akan difokuskan pada sektor industri, pariwisata, dan investasi karena ketiga sektor inilah yang mendapat tekanan besar selama pandemi Covid-19 di 2020. Ketiga sektor ini juga yang menyerap tenaga kerja cukup besar," kata Suharso.

Pada 2019, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut jumlah tenaga kerja yang terserap di sektor industri pengolahan sebesar 19,2 juta, sementara tenaga kerja yang terserap di sektor pariwisata sebesar 13 juta (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, 2019), di mana 8,6 juta di antaranya bekerja di sektor akomodasi dan makan-minuman.

"Di tengah pandemi Covid-19 yang memberikan tekanan terhadap perekonomian, tentu kita perlu melakukan sebuah diagnosis cepat dan tepat terhadap kondisi perekonomian dan sosial Indonesia sehingga kita dapat menemukan sebuah resep kebijakan yang pas untuk bagaimana kita menghadapi tekanan yang sedang kita alami ini," ujar Suharso.

Menurutnya, berbagai tantangan akan masih dirasakan perekonomian Indonesia pada tahun 2021 ini. Pertama, masih adanya tekanan terhadap daya beli masyarakat akibat banyaknya masyarakat yang kehilangan jam kerja dan kehilangan pekerjaan.

“BPS menunjukkan 9,46 juta orang yang tadinya bekerja secara penuh, menjadi pekerja paruh waktu dan setengah penganggur akibat pandemi. Kemudian, 310 ribu orang yang tadinya bekerja, menjadi tidak bekerja,” ujarnya.

Kedua, penularan virus Covid-19 di Indonesia yang belum mencapai titik puncak. Hal ini disebabkan perilaku masyarakat yang masih kurang disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan, serta jumlah tes yang belum memadai.

Untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional, kata Suharso, tentunya perlu dilakukan terobosan dalam meningkatkan investasi, baik investasi pemerintah maupun swasta. Pemerintah memiliki tugas untuk memberikan stimulus terhadap perekonomian melalui konsumsi pemerintah (belanja barang) dan investasi pemerintah (belanja modal).

"Defisit anggaran tahun 2021 masih cukup besar, yaitu sebesar -5,7 persen yang diyakini dapat memberikan ruang yang cukup bagi pemerintah untuk dapat melakukan stimulus terhadap perekonomian dan meredam dampak Covid-19 agar tidak terlalu dalam," kata Suharso. (*)


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT