Nilai Tukar Rupiah Diprediksi Rp 13.500 pada Kuartal I 2021
TEMPO.CO | 01/01/2021 14:16
Petugas penukaran mata uang asing tengah menghitung uang pecahan 100 dolar Amerika di Jakarta, Kamis, 24 Desember 2020. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat tipis 5 poin atau 0,03 persen ke level 14.200. Tempo/Tony Hartawan
Petugas penukaran mata uang asing tengah menghitung uang pecahan 100 dolar Amerika di Jakarta, Kamis, 24 Desember 2020. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat tipis 5 poin atau 0,03 persen ke level 14.200. Tempo/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi memprediksi nilai tukar rupiah sepanjang 2021 berkisar Rp 13.500-15.000 per dolar Amerika Serikat. Rupiah diperkirakan mencapai titik terendah pada kuartal I.

“Saya optimistis rupiah di Rp 13.500 karena Indonesia sudah memasuki masa new normal,” ujar Ibrahim saat dihubungi pada Jumat, 1 Januari 2021.

Posisi penguatan kurs terhadap dolar akan diikuti dengan kenaikan harga emas. Menurut Ibrahim, harga emas pada kuartal I akan mencapai titik tertinggi dengan nilai 2.450 per troy ons. Harga tersebut setara dengan Rp 999 ribu per gram.

Ibrahim melanjutkan, pergerakan rupiah didorong oleh jalannya vaksinasi Covid-19. Vaksin yang mulai disuntikkan ke masyarakat membuat roda ekonomi kembali berputar. Di saat yang sama, laju investasi pun berangsur-angsur berjalan.

Adapun pergerakan kurs rupiah ke level Rp 15 ribu diperkirakan terjadi pada kuartal III. “Di kuartal III, saat  vaksin jalan, ekonomi membaik dan bank sentral menghentikan stimulus. Saat suku bunga dinaikkan, harga vaksin akan jatuh,” ucapnya.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sebelumnya optimistis ekonomi Tanah Air pada 2021 akan tumbuh positif. Menurut Perry, pemulihan ekonomi terdorong oleh sejumlah instrumen kebijakan yang telah dirancang oleh pemangku kebijakan.

“Seluruh instrumen kebijakan kami berikan untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional dengan menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan,” ujar Perry.

Perry menjelaskan, bank sentral telah merancang lima pokok kebijakan yang akan ditempuh pada tahun depan. Salah satunya, BI akan melanjutkan stimulus moneter.

Kebijakan ini memungkinkan BI tetap menetapkan suku bunga rendah dan likuditas yang longgar sampai tanda-tanda tekanan terhadap inflasi meningkat. BI pun beberapa waktu lalu telah menurunkan suku bunga hingga menjadi 3,75 basis poin.

Baca: Menko Airlangga Klaim IHSG dan Rupiah Mulai Pulih

FRANCISCA CHRISTY ROSANA


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT