IHSG Anjlok dan Rupiah Menguat pada Pembukaan Perdagangan, Ini Faktor Pemicunya
TEMPO.CO | 01/02/2021 09:58
Karyawan melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 4 Januari 2021. TEMPO/Tony Hartawan
Karyawan melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 4 Januari 2021. TEMPO/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta - Indeks harga saham gabungan atau IHSG dibuka melemah pada perdagangan hari ini, Senin, 1 Februari 2021. Berdasarkan data Bloomberg, IHSG dibuka melemah di level 5.856,77.

Hingga pukul 09.04 WIB, indeks anjlok 104 poin atau 1,77 persen ke level 5.759,42. Kinerja di awal sesi hari ini melanjutkan tren bearish sejak akhir bulan lalu. Saham perbankan dilego asing sedangkan saham dua emiten anyar menyentuh batas auto reject atas (ARA).

Pada penutupan sesi Jumat pekan lalu, IHSG ditutup anjlok 1,96 persen atau 117,03 poin menjadi 5.862,35. Level tersebut melemah 1,95 persen dibandingkan dengan penutupan IHSG akhir 2020, di posisi 5.979,07.

Di awal perdagangan, sebanyak 242 saham melemah, 132 saham stagnan, dan hanya 81 saham menguat. Hampir seluruh sektor melemah, kecuali teknologi. Pelemahan terdalam dialami sektro industri sebesar -2,22 persen.

Di lain pihak, saham dua emiten anyar meroket. Saham PT Bank Net Syariah Tbk. melonjak 34,95 persen ke level 139. Adapun saham PT Damai Sejahtera Abadi Tbk. juga melesat 34,65 persen ke level 136.

Hari ini, Badan Pusat Statistik akan melaporkan inflasi Januari 2020. Sebelumnya Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengatakan Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tidak efektif mengurangi laju penyebaran virus coroan (Covid-19).

Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama sebelumnya mengatakan berdasarkan rasio fibonacci, level support maupun resistance IHSG berada 5.699,45 hingga 5.992,73. Dia menambahkan, indikator MACD atau moving average convergence divergence telah membentuk pola dead cross di area positif. 

“Sementara itu, Stochastic dan RSI masih menunjukkan sinyal yang sangat negatif. Di sisi lain, terlihat beberapa pola downward bar yang mengindikasikan adanya potensi pelemahan lanjutan pada pergerakan IHSG,” kata Nafan dalam laporan riset harian, Senin, 1 Februari 2021.

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat 2,5 poin atau 0,02 persen ke level Rp 14.027,5 per dolar AS. Indeks dolar d sisi lain turun 0,03 persen level 90,553.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan penguatan indeks dolar AS tidak serta merta membuat mata uang garuda ikut melemah. Adapun penguatan rupiah ini lebih ditopang oleh data internal yang cukup bagus, sehingga pelaku pasar kembali mengoleksi mata uang garuda dengan kembali masuknya modal asing ke pasar finansial dalam negeri.

“Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah kemungkinan masih akan fluktuatif di rentang tetapi dibuka menguat di rentang Rp.14.000 - Rp.14.050,” ujar Ibrahim.

Ibrahim menuturkan, salah satu faktor penopang penguatan rupiah adalah sikap pelaku usaha yang mempersiapkan diri memperkuat perekonomian nasional guna menggerakkan roda perekonomian. Hal ini dilakukan dengan mendorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan daya beli masyarakat.

Hal ini juga ditambah dengan harapan bahwa proses perbaikan ekonomi akan berlanjut sepanjang 2021. Sinyal perbaikan ini sudah terlihat bahkan sejak kuartal IV/2020 lalu saat pertumbuhan ekonomi diproyeksikan pada angka -2,9 persen atau lebih baik dari capaian kuartal III tahun 2020.

Adapun analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada menuturkan sejak awal tahun indeks komposit menghadapi berbagai sentimen positif yang membuat euforia terhadap pasar modal menjadi berlebihan. "Ini kenaikan yang terlalu berlebihan sejak awal tahun, euforia pasar masih sangat tinggi, IHSG pun kembali konsolidasi di tengah minimnya sentimen positif," ujarnya.

BISNIS

Baca: IHSG Anjlok 1 Persen, Saham BRIS dan ANTM Turun 6 Persen Lebih


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT