KNKT: Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 Tidak Pecah di Udara
TEMPO.CO | 03/02/2021 14:27
Petugas membawa kantong yang berisi puing pesawat Sriwijaya Air SJ182 di Posko Sar Bersama Sriwijaya Air di Terminal JICT 2, Jakarta, Kamis, 21 Januari 2021. Operasi pencarian pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada 9 Jan
Petugas membawa kantong yang berisi puing pesawat Sriwijaya Air SJ182 di Posko Sar Bersama Sriwijaya Air di Terminal JICT 2, Jakarta, Kamis, 21 Januari 2021. Operasi pencarian pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada 9 Januari 2021 resmi dihentikan setelah sebelumnya diperpanjang sebanyak dua kali. TEMPO/Muhammad Hidayat

TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi atau KNKT Soerjanto Tjahjono memastikan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu tidak mengalami ledakan sebelum jatuh ke laut. Indikasi ini berasal dari bukti temuan puing-puing pesawat yang dihimpun oleh Tim SAR.

“Berdasarkan luas sebaran konsisten menunjukkan bahwa  pesawat tidak mengalami ledakan sebelum membentur air. Pesawat Swirijaya Air tidak ada pecah di udara,” ujar Soerjanto dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR, Rabu, 3 Februari 2021.

Menurut data KNKT, tim operasi menemukan puing pesawat berlogo Ri-Yu itu tersebar di wilayah dengan luas 80 meter dan panjang 110 meter. Bangkai pesawat dikumpulkan dari perairan  dengan kedalaman 16-23 meter.

Selama masa evakuasi, tim mengumpulkan  68 kantong serpihan kecil pesawat,dan 55 bagian badan pesawat, termasuk kotak hitam berupa flight data recorder atau FDR. Puing-puing pesawat itu terdiri atas instrumen peralatan di ruang kemudi, bagian roda utama maskapai, bagian sayap maskapai, bagian mesin pesawat, bagian kabin, dan bagian ekor.

“Bagian-bagian ini mewakili seluruh bagian dari depan hingga belakang,” kata Soerjanto.

Selain memastikan pesawat tidask mengalami ledakan di air, KNKT mengungkapkan bahwa mesin pesawat masih berada dalam kondisi hidup sebelum membentur air. Temuan ini berasal dari analisis terhadap konsisi turbin yang ditemukan selama masa pancarian.

“Diindikasikan bahwa turbin-turbin rontok yang menandakan bahwa ketika pesawat mengalami impact dengan air, mesin masih berputar,” kata Soerjanto.

Di samping itu, catatan lain menunjukkan bahwa pesawat Sriwijaya Air SJ-182 tidak mengalami kerusakan signifikan dalam tiga hari sebelum insiden kecelakaan terjadi. Catatan dihimpun sejak 6 hingga 9 Januari 2021.

Sriwijaya Air SJ-182 yang membawa 50 penumpang dan 12 awak pesawat jatuh di Kepulauan Seribu pada 9 Januari 2021. Dalam operasi SAR, tim gabungan menemukan 325 kantong potongan tubuh korban.

Tim SAR telah menghentikan evakuasi terhadap korban dan bangkai pesawat Sriwijaya Air setelah 13 hari pencarian. Operasi dilanjutkan oleh KNKT untuk mencari memori kotak hitam berupa CVR untuk keperluan investigasi. KNKT akan menyelesaikan laporan awal investigasinya dalam 30 hari setelah kecelakaan terjadi.

Baca: Saran Kemenhub ke Keluarga Korban Sriwijaya Air Sebelum Tuntut Boeing


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT