IHSG Ditutup Menguat di 6.146,02 Usai Rilis BPS soal Ekonomi Terkontraksi
TEMPO.CO | 05/02/2021 16:40
Pergerakan Index Harga Saham Gabungan pada layar monitor di Jakarta, Jumat, 6 November 2020.  Indeks harga saham gabungan (IHSG) berpotensi melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat (6/11/2020) di tengah kenaikan bursa global yang menyambut Pilpres AS
Pergerakan Index Harga Saham Gabungan pada layar monitor di Jakarta, Jumat, 6 November 2020. Indeks harga saham gabungan (IHSG) berpotensi melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat (6/11/2020) di tengah kenaikan bursa global yang menyambut Pilpres AS 2020.. Tempo/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta - Indeks harga saham gabungan atau IHSG ditutup menguat 0,64 persen atau 38,8 poin pada akhir perdagangan hari ini di level 6.146,02 ketimbang penutupan kemarin. IHSG menguat walaupun Badan Pusat Statistik atau BPS sebelumnya mengumumkan produk domestik bruto Indonesia -2,07 persen untuk periode 2020.

Sebelumnya IHSG dibuka di level 6.136,39 di awal perdagangan. Adapun sepanjang perdagangan hari ini terpantau 286 saham menghijau, 176 memerah, dan 155 menguning.

Total transaksi sekitar Rp 11,98 triliun dan investor asing membukukan aksi jual bersih atau net sell senilai Rp 218,85 miliar jelang penutupan. Sejumlah saham yang menguat dobel digit pada hari ini di antaranya MTPS 34,83 persen, MARK 13,43 persen, BUMI 12,5 persen, ANTM 10,83 persen, dan GJTL 10,97 persen.

Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji Gusta menyebut hasil PDB Indonesia tahun 2020 hanya sedikit berbeda dari konsensus ekonom sehingga pergerakan pasar sudah priced in. "Jadi tidak ada kekhawatiran," ujarnya ketika dihubungi.

Sementara itu, analis Artha Sekuritas Dennies Christopher mengatakan meski hasil PDB tahunan Indonesia mengalami minus yang lebih dalam dari konsensus, tapi hasil -2,07 persen cenderung bisa diterima pasar. "Slightly di bawah konsensus, tapi saya rasa masih oke," tuturnya.

Sebelumnya, konsensus ekonom yang dirilis Bloomberg, memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2020 akan menyusut 2,2 persen.

Dari data yang dikumpulkan, proyeksi pertumbuhan ini menunjukkan sedikit perubahan dalam aktivitas transportasi dan sedikit peningkatan dalam pengukuran aktivitas ritel sepanjang kuartal keempat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, di tengah rata-rata sedikit pelonggaran ukuran jarak sosial.

Dalam pengumumannya, BPS menyebutkan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2020 ini anjlok dibandingkan 2019 lalu yang tumbuh 5,02 persen. Kontraksi ekonomi ini dipicu oleh pandemi Covid-19 yang mempengaruhi kegiatan ekonomi masyarakat.

Angka pertumbuhan yang dirilis BPS ini sejalan dengan proyeksi pemerintah yang berada di kisaran minus 2,2 persen hingga minus 1,7 persen. Namun, PDB ini berada di bawah ekspektasi yang dipasang oleh Bank Dunia dan Asian Development Bank (ADB) yang sama-sama memperkirakan ekonomi Indonesia minus 2,2 persen.

BISNIS

Baca: Pertumbuhan Ekonomi Minus, Staf Khusus Jokowi: Mengarah ke Pulih


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT