2021, FIFGROUP Targetkan Rangkul 480 UMKM Binaan
TEMPO.CO | 08/02/2021 07:12
Sridadi (tengah) saat menerima pinjaman secara simbolis oleh Kepala Cabang FIFGROUP Solo, Andi Sutopo. Sridadi adalah penggiat UMKM dengan usaha lumbung desa dan penggilingan padi yang mendapat dana pinjaman sampai Rp 18 juta. Foto : FIFGroup
Sridadi (tengah) saat menerima pinjaman secara simbolis oleh Kepala Cabang FIFGROUP Solo, Andi Sutopo. Sridadi adalah penggiat UMKM dengan usaha lumbung desa dan penggilingan padi yang mendapat dana pinjaman sampai Rp 18 juta. Foto : FIFGroup

TEMPO.CO, Jakarta - PT Federal International Finance atau FIFGROUP akan menambah sekitar 480 UMKM jumlah binaan pada tahun ini. “Kami sudah mendapat persetujuan dari Manajemen untuk menambah binaan UMKM kami melalui bantuan pinjaman dana bergulir dari dana sosial syariah dengan dana yang setara atau lebih dari yang sebelumnya," ujar Chief of Corporate Communication and Corporate Social Responsibilty, Yulian Warman, dalam keterangan pers, Ahad, 7 Februari 2021.

Yulian menjelaskan, dari jumlah 480 tersebut, seluruh Kepala Cabang FIFGROUP seluruh Indonesia yang berjumlah 235 cabang akan dilibatkan. “Konsepnya adalah setiap Kepala Cabang nanti akan diperbolehkan memiliki minimal dua UMKM binaan. Mereka harus mencari yang memiliki motivasi tinggi untuk maju, serta membina dan memonitor agar terus berkembang," tuturnya.

Adapun modul pembinaan akan dipersiapkan kantor pusat. Eksekusi program tambahan ini paling lambat dilakukan pada akhir bulan ini. Dengan begitu ia berharap di tahun 2021 ini juga program dana bergulir dapat membantu masyarakat dan mendorong UMKM. "Minimal bisa membantu menggerakkan perekonomian di sekitar UMKM tersebut di masa pandemi ini," ucap Yulian.

Lebih jauh ia menyebutkan salah satu yang menjadi perhatian FIFGROUP dalam mencari UMKM untuk dibina adalah motivasi yang kuat dari pengusaha untuk maju. "Kami selalu menempatkan motivasi ingin maju sebagai persyaratan paling dasar, setelah itu baru yang lain-lain," kata Yulian.

Hingga akhir Januari 2021 lalu, jumlah penerima bantuan dana bergulir FIFGROUP mencapai 279 UMKM dengan total nominal nilai manfaat bantuan modal, yaitu sebesar Rp 846,5 juta yang tersebar di seluruh Indonesia.

Untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya, bantuan modal tersebar ke Jakarta Barat, Cilandak, Ciganjur dan Pamulang. Sedangkan cabang FIFGROUP bantuan dana bergulir ini tersebar mulai dari Cibinong, Bogor, Bandung, Semarang, Solo, Surabaya, Pangkal Pinang, Padang, Batam, Lubuk Pakam, Palembang, Bandar Jaya, Banjarmasin, Balikpapan, Makassar, Manado, Denpasar dan Mataram. 

Bermula di tahun 2016, bantuan dana bergulir yang berasal dari dana sosial Syariah FIFGROUP tersebut diberikan ke 26 UMKM dengan total nominal Rp 65 juta. Angka tersebut naik pada tahun 2017 dengan diberikan kepada 35 UMKM dengan nominal Rp 124,5 juta.

Berikutnya bantuan dana bergulir pada tahun 2018 diberikan kepada 67 UMKM dengan nominal Rp 152,5 juta, dan naik pada tahun 2019 kepada 97 UMKM dengan nominal Rp 298 juta. Sementara pada tahun 2020 bantuan diberikan kepada 54 UMKM dengan total nominal Rp 206,5 juta.

Human Capital, General Service and Corporate Communication Director FIFGROUP Esther Sri Harjati berharap bantuan dana bergulir ini bisa membantu UMKM binaan tetap hidup dan produktif sehingga mampu berkontribusi terhadap perkembangan ekonomi. Sehingga pada akhirnya berdampak pada ekonomi nasional.

Program dana bergulir ini adalah bantuan pinjaman tanpa bunga bagi UMKM yang kesulitan modal. Nilai pinjaman yang diberikan berkisar antara Rp 1 juta sampai dengan Rp 20 juta.

Dalam memberikan dana bergulir UMKM FIFGROUP, terdapat beberapa kriteria yang menjadi pertimbangan dalam mendapatkan pinjaman dana bergulir tersebut. Beberapa syarat itu antara lain memiliki tempat usaha pribadi, memiliki lama usaha berjalan yang cukup, memiliki laporan pembukuan yang baik, memiliki penghitungan rasio penghasilan yang cukup untuk membayar angsuran, dan berada di lingkungan usaha FIFGROUP.

Soal pentingnya UMKM sebelumnya juga disinggung oleh Menteri Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Teten Masduki. Ia menyebutkan UMKM sudah terbukti tahan dalam setiap kondisi bisnis, salah satu contohnya adalah ketika terjadi krisis tahun 1998.

"Pada 1998, UMKM betul-betul jadi penyelamat ekonomi nasional, ketika banyak usaha besar, perbankan berjatuhan. Ekspor UMKM malah naik sampai 350 persen," kata Teten.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah UMKM saat ini mencapai 64 juta. Angka tersebut mencapai 99,9  persen dari keseluruhan usaha yang beroperasi di Indonesia.

Selama pandemi Covid-19 ini, sektor UMKM paling terdampak. Banyak dari pengusaha tersebut yang harus gulung tikar karena permintaan jatuh. “Sekitar 30 persen usahanya terganggu. Tapi di antara mereka ada yang tetap menciptakan inovasi-inovasi kreatif,” kata Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Rully Indrawan menjelang akhir tahun 2020.

Baca: Pandemi Diprediksi Berakhir 10 Tahun Lagi, Staf Sri Mulyani: Harus Tetap Optimis


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT