Ekonom Prediksi Pertumbuhan Ekonomi di Kuartal I Masih Negatif, Apa Sebabnya?
TEMPO.CO | 08/02/2021 08:27
Foto areal suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis 14 November 2019. APBN diharapkan bisa menjadi pendongkrak bagi pertumbuhan ekonomi. Maka program priortas yang masuk dalam pendanaan APBN harus digenjot
Foto areal suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis 14 November 2019. APBN diharapkan bisa menjadi pendongkrak bagi pertumbuhan ekonomi. Maka program priortas yang masuk dalam pendanaan APBN harus digenjot realisasinya. ANTARA FOTO/Galih Pradipta

TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama tahun ini masih akan terkontraksi, seperti halnya yang terjadi pada keseluruhan tahun 2020. 

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad memprediksi ekonomi tumbuh minus 1 persen per kuartal satu tahun 2021. Perlambatan ini di antaranya dipicu oleh penanganan pandemi Covid-19 yang belum optimal.

"Jangan berharap dengan situasi sekarang kita bisa tumbuh positif di kuartal I, apalagi tanggal 9 Februari nanti (pemerintah) melanjutkan kebijakan PPKM dengan skala mikro, pasti masih ada dampaknya ke ekonomi,” ujar Tauhid dalam konferensi pers virtual, Ahad, 7 Februari 2021.

Hal tersebut ditunjukkan oleh tren kasus harian Covid-19 yang masih terus naik. Ditambah lagi ada upaya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro mulai 9 Februari 2021.

Penerapan PPKM tersebut akan membatasi mobilitas masyarakat sehingga aktivitas ekonomi masih akan berjalan lambat. Padahal, tingkat inflasi pada awal 2021 masih tercatat rendah sejalan dengan daya beli masyarakat yang tertekan.

Pengeluaran pemerintah, termasuk program pemulihan ekonomi nasional (PEN) juga diperkirakan belum akan berperan signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini. 

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV/2020 terkontraksi minus 2,19 persen secara tahunan. Adapun untuk keseluruhan tahun 2020, ekonomi tercatat mengalami kontraksi minus 2,07 persen.

Dari data itu, kata Tauhid, perekonomian Indonesia masih belum berada pada jalur pemulihan. Pasalnya, salah satu komponen terbesar dalam konsumsi rumah tangga, yaitu makanan dan minuman yang merupakan kebutuhan dasar masyarakat, terus mengalami penurunan hingga kuartal IV/2020.

Di samping itu, perkembangan investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) tidak terlalu baik, bahkan cenderung stagnan. Adapun berdasarkan catatan BKPM, investasi pada 2020 justru terealisasi sebesar Rp 826,3 triliun. Namun, realisasi tersebut tidak memiliki dampak yang signifikan ke struktur PDB.

Hal senada disampaikan oleh ekonom Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro. Ia memprediksi ekonomi pada kuartal pertama tahun ini masih akan terkontraksi sebesar minus 0,85 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

“Kami memperkirakan ekonomi akan mencatat pertumbuhan minus 0,85 persen di kuartal I/2021, sebelum melaju ke 7,82 persen di kuartal II, 5,93 persen di kuartal III, dan 4,57 persen di kuartal IV,” kata Satria.

Satria menjelaskan, ada beberapa indikator yang mengindikasikan pertumbuhan negatif di kuartal I tahun ini, misalnya pada konsumsi rumah tangga. Ia menyebutkan mobilitas ritel pada Januari 2021 telah menurun ke level terendah sejak September 2020 karena lonjakan kasus Covid-19 baru-baru ini.

Bahkan, mobilitas ritel pada periode tersebut lebih rendah dibandingkan dengan kuartal II/2020 di beberapa provinsi besar seperti Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan

Dari sisi investasi, dia mengatakan terdapat beberapa kontraksi yang lebih buruk dari perkiraan. Pasalnya, pertumbuhan sektor konstruksi mencapai minus 5,67 persen secara tahunan dengan pertumbuhan investasi bangunan, komponen terbesar dalam pembentukan modal tetap bruto, mencapai minus 6,63 persen.

Di sisi ekspor, menurut Satria, kemunduran harga komoditas seperti batu bara dan minyak sawit baru-baru ini dapat memperlambat momentum pemulihan. Indonesia pun mungkin tidak mendapatkan banyak manfaat dari ledakan ekspor manufaktur teknologi baru-baru ini mengingat rendahnya eksposur ke rantai pasokan global.

Selain itu, Satria memperkirakan pengeluaran pemerintah masih akan melambat pada kuartal pertama tahun ini karena lembaga pemerintah masih harus beradaptasi dengan anggaran 2021 yang baru. Dengan begitu, sejumlah faktor pendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal I tahun ini pun dianggap belum terlalu kuat. 

BISNIS

Baca: Terpopuler Bisnis: Ahok Komentari Laba Pertamina, Pertumbuhan Ekonomi Minus


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT