Masjid Babah Alun Desari, Destinasi Wisata Religi di Jakarta Selatan
TEMPO.CO | 13/02/2021 04:59
Masjid Babah Alun Desari yang terletak di Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat, 12 Februari 2021. ANTARA/Laily Rahmawaty
Masjid Babah Alun Desari yang terletak di Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat, 12 Februari 2021. ANTARA/Laily Rahmawaty

TEMPO.CO, JakartaMasjid Babah Alun Desari yang terletak di pinggir Tol Depok-Antasari kini men jadi destinasi wisata religi bagi masyarakat. Bentuk masjid berarsitektur oriental itu menjadi daya tarik bagi masyarakat sekitar maupun pendatang dari luar kota. 

Sekretaris Kota Jakarta Selatan Munjirin mengatakan masjid yang berada di Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan itu kerap dijadikan rest area atau tempat istirahat bagi pengguna jalan tol Desari. 


"Hadirnya Masjid Baba Alun Desari punya arti tersendiri, karena bentuknya yang unik membuat masyarakat tertarik untuk datang," kata Munjirin saat Salat Jumat di masjid itu, Jumat 12 Februari 2021.

Masjid Babah Alun Desari dibangun oleh pemilik Tol Desari, Muhammad Jusuf Hamka. Masjid itu diresmikan oleh Sekretaris Daerah DKI Jakarta Marullah Matali saat menjabat sebagai Wali Kota Jakarta Selatan pada Agustus 2020. Peresmian masjid bertepatan dengan Tahun Baru Islam 1442 Hijriyah.

"Harapan kita memang masjid ini menjadi destinasi wisata religi di Jakarta Selatan," kata Munjirin.

Masjid yang berdiri di atas tanah sekitar 450 meter persegi terdiri atas tiga bangunan, yakni bangunan utama masjid, gedung serba guna dan pojok halal.



Gedung serba guna berada di lantai atas sisi kiri bangunan masjid, pada lantai dasarnya adalah tempat wudhu. Pada sisi kanan terdapat pojok halal, semacam minimarket yang menyediakan produk makanan dan minuman terjamin kehalalannya dengan harga terjangkau. Pada bagian lantai atasnya merupakan kantor dari DKM Babah Alun Desari.

Bangunan utama masjid terdiri atas satu lantai yang ditinggikan, memiliki luas sekitar 200 meter persegi. Ruang salat di lantai dasar memiliki daya tampung hingga 200 orang. Sedangkan bagian lantai atas dibuat seperti bangunan bundar karena mengikuti bentuk kubah, digunakan untuk perpustakaan dan ruang membaca.

Yang paling mencolok dari bangunan masjid ini, selain bentuknya menyerupai bangunan etnis Tionghoa, diperkuat dengan warna merah dominan, kuning serta putih gading. Masjid diperindah dengan ornamen-ornamen negeri Tirai Bambu pada bagian jendela, pintu hingga pilar masjid dan jurai luar atap bangunan.

Baca juga: Imlek, Pemilik Tol Desari Jusuf Hamka Bagikan Angpao di Masjid Babah Alun

Saat membangun Masjid Babah Alun Desari, Jusuf Hamka mengirimkan sekitar 20 pekerja termasuk arsiteknya ke Xinjiang, Cina, untuk mempelajari langsung bangunan asli masyarakat setempat. "Di masjid ini ada gedung serba guna, saya sebutnya bale rakyat. Silakan masyarakat yang ingin mengadakan hajatan, pesta pernikahan, atau kegiatan apapun gratis, asalkan menjaga kenyamanan sesuai tuntutan Islam, tidak boleh ada makanan-makanan haram, alkohol dan segalanya," kata Jusuf Hamka.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT