Jadi Korban Peretasan Saat Nobar KPK End Game, Aktivis Antikorupsi Lapor Polisi
TEMPO.CO | 08/06/2021 13:26
Ketua Wadah Pegawai KPK Yudi Purnomo (kanan) memberikan pernyataan kepada wartawan usai di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Jumat, 4 Juni 2021. ANTARA/Indrianto Eko Suwarso
Ketua Wadah Pegawai KPK Yudi Purnomo (kanan) memberikan pernyataan kepada wartawan usai di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Jumat, 4 Juni 2021. ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Gerakan Rakyat Antikorupsi (Gertak) Kalimantan Barat, YS, melaporkan peristiwa peretasan, teror, dan doxing yang dialaminya ke Mapolda Kalimantan Barat, pada Senin, 7 Juni 2021. Ini terjadi pasca aksi penyampaian pendapat menolak pelemahan KPK.

“Peretasan, teror digital, dan doxing terjadi kepada setidaknya 6 orang dari aliansi Gertak,” kata Anggota Gertak Kalbar Sri Haryanti dalam keterangannya, Selasa, 8 Juni 2021.

Sri menjelaskan, serangan tersebut dialami aliansi Gertak pasca aksi penyampaian pendapat menolak pelemahan KPK pada Kamis, 3 Juni 2021, dan setelah acara nonton bareng dan diskusi film dokumenter KPK End Game, pada Sabtu lalu.

Ketika melapor, YS (26 tahun) didampingi empat kuasa hukumnya dari Tim Advokasi Antikorupsi. Laporan tersebut diterima petugas bernama Brigpol Fahrul Anggara Putera, dan diberi nomor STTP/152/VI/2021/Ditreskrimsus.

YS, kata Sri, memberikan keterangan bahwa akun Grabnya diretas, bahkan digunakan untuk melakukan pesanan palsu dan food bombing. YS juga mendapatkan upaya peretasan akun WhatsApp, sehingga terpaksa mengganti nomor pada Jumat, 4 Juni 2021.

Menurut Sri, YS merasa nomor lamanya tersebut masih aktif, sehingga YS meyakini nomor itu telah diretas. “Hal itu dikuatkan dengan bukti chat dari satu anggota Gertak, yang menyatakan bahwa pada Sabtu pagi mendapati nomor tersebut masih aktif dan dapat menerima pesan WhatsApp,” kata dia.

Dalam pemeriksaan di kepolisian, Sri mengungkapkan bahwa polisi menerima laporan bahwa nomor lama YS sempat menyebarkan berita bohong dan berbau SARA, serta ancaman kepada Sekolah Tinggi Katholik Negeri (STAKatN) Pontianak. 

Kepada polisi, kata Sri, YS menyatakan bahwa bukan dia yang melakukannya, dan tidak mungkin dia menyebarkan hal tersebut, karena YS adalah penganut agama Katholik. “YS juga menuturkan bahwa teman-temannya tidak pernah mendapat pesan siaran (broadcast massage) seperti itu darinya,” ujar Sri.

Sri mengatakan, polisi berencana meminta keterangan tiga saksi yang merupakan teman YS terkait penggantian nomor telepon dan pesanan palsu serta food bombing.

Aliansi Gertak meyakini serangan tersebut berkaitan erat dengan isu pelemahan KPK. Pelakunya, kata Sri, diyakini memiliki akses dan kemampuan. Ia pun meminta Kepolisian untuk mengungkap pelaku peretasan sebagai upaya penegakan hukum demi perlindungan keamanan terhadap masyarakat di dunia digital.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT