Hanafi Rais Klaim Kritik Amien Rais Adalah Suara Silent Majority
TEMPO.CO | 22/03/2018 09:53
Hanafi Rais Klaim Kritik Amien Rais Adalah Suara Silent Majority
Hanafi Rais. TEMPO/Eko Siswono

TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional Hanafi Rais menilai ancaman terhadap Amien Rais lantaran kerap mengeluarkan kritik tajam terhadap pemerintah adalah hal biasa. Menurut dia, reaksi Menteri Koordinator bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan, atas kritik pendiri PAN itu berlebihan.

“Kritik Pak Amien yang disampaikan hari Minggu lalu itu karena menyuarakan suara silent majority yang selama ini sebenarnya rindu keadilan terkait kepemilikan lahan,” kata Hanafi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu 21 Maret 2018.

Baca juga: Polemik Luhut dan Amien Rais, SBY: Selesaikan dengan Kekeluargaan

Sebelumnya, Luhut Panjaitan naik pitam saat berpidato dalam seminar tentang kelautan di Badan Pengawas Keuangan RI, Senin, 19 Maret 2018. Ia membantah tuduhan bahwa Presiden Joko Widodo menjual negara kepada pihak asing lewat pembukaan keran investasi berbagai macam proyek.

Luhut juga mempermasalahkan tuduhan bahwa pembagian sertifikat tanah merupakan upaya mengibuli rakyat. Ia tidak menyebut secara spesifik siapa pihak yang menuduh. Namun ia mengancam akan membuka dosa penuduh itu jika kerap mengkritik pemerintah secara asal-asalan.

Ancaman itu dinilai mengarah pada Amien Rais yang sebelumnya mengeritik pemerintah soal penguasaan lahan. Amien Rais juga menuding program bagi-bagi sertifikat oleh Jokowi adalah ngibul.

Hanafi Rais berpendapat pembagian sertifikat tanah seharusnya sudah mejadi kewajiban pemerintah dalam melakukan reforma agraria. Kritik tersebut, kata dia, menunjuk pada kebiasaan selebrasi pada setiap acara pembagian sertifikat tanah. “Kalau mau land reform gampang, seluruh mereka yang punya perusahaan tambang, sawit, disetop diambil alih oleh negara, dibagi rata ke masyarakat. Itu baru land reform,” katanya.

Baca juga: 2 Kebiasaan Amien Rais yang Patut Dicontoh Menurut Adiknya

Ia pun menilai pemerintah seharusnya menerima kritik itu tanpa harus melakukan ancaman atau teror satu sama lain. “Itu namanya mengkhianati demokrasi yang selama ini kita bangun,” kata Hanafi. Ia pun menilai pemerintah tak perlu panik dengan kritik ayahnya tersebut.

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT