ULMWP Serahkan Petisi dari 1,8 Juta Rakyat Papua ke Komisioner HAM PBB
JUBI.CO.ID | 29/01/2019 13:50
ULMWP Serahkan Petisi dari 1,8 Juta Rakyat Papua ke Komisioner HAM PBB
Benny Wenda menunjukkan petisi yang ditandatangani oleh 1,8 juta rakyat Papua - Dok. ULMWP

Jayapura, Jubi - Petisi berisikan 1,8 juta tandatangan berisikan tuntutan kemerdekaan dan permohonan kepada PBB untuk mengirimkan misi pencari fakta terkait dugaan pelanggaran HAM oleh Indonesia. dikirimkan United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) akhir pekan lalu kepada Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia (HAM) PBB, Michelle Bachelet.

“Vanuatu yang menjadi sponsor kami menyerahkan petisi tersebut kepada Michelle,” ungkap Ketua ULMWP, Benny Wenda, Senin (28/1/2019) kepada Jubi melalui sambungan telepon.

BACA JUGA: Bupati Nabire minta data OAP dijadikan dua dokumen

Selain menyerahkan petisi, ULMWP, menurut Wenda juga menyampaikan isu lainnya kepada Michelle. Diantaranya adalah krisis kemanusiaan di Nduga dan dugaan penggunaan fosfor putih dalam operasi TNI di kabupaten tersebut.

“Petisi itu adalah suara rakyat Papua menolak pepera 1969 yang tidak demokratis. Dan penggunaan fosfor putih itu sudah menjadi perhatian masyarakat internasional,” ujar Wenda.

Menanggapi petisi ini, Moeldoko, Kepala Kantor Staf Presiden mengatakan pemerintah Indonesia tidak perlu khawatir karena PBB pasti menghormati kedaualatan Indonesia. Mantan Panglima TNI itu pun menilai langkah ULMWP tidak mempengaruhi kedaulatan Republik Indonesia.

Namun wakil Ketua Komisi I DPR RI, Hanafi Rais menganggap petisi tersebut merupakan manuver politik yang patut disikapi secara serius.

"Kita selalu punya antisipasi dan punya pesan bahwa gerakan OPM yang selalu mendukung dukungan internasional itu tidak bisa dianggap sepele," ujar Hanafi Rais di, Senayan, Jakarta.

BACA JUGA: Papua targetkan emas dari sepak bola di PON XX

Benny Wenda mengklaim petisi rakyat Papua yang diserahkannya itu sebagai petisi pertama dalam sejarah perjuangan global, dari gerakan anti-kolonial besar di Asia, Afrika, dan Pasifik hingga gerakan massa Amerika Latin dan Eropa yang ditandatangani secara manusal oleh begitu banyak tangan secara fisik.

“Banyak orang harus berkorban untuk menandatangani petisi itu. Bahkan ada yang ditangkap, disiksa dan dibunuh,” ujar Wenda. (*)

TABLOIDJUBI.COM


BERITA TERKAIT