Sejarah Nama Kota Jayapura, Dari Hollandia Hingga Sukarnopura
JUBI.CO.ID | 29/08/2019 15:16
Sejarah Nama Kota Jayapura, Dari Hollandia Hingga Sukarnopura
Tumpukan sampah botol plastik yang berada di bibir pantai pulau Deby yang berhadapan langsung dengan jembatan merah Hamadi – Jubi/Agus Pabika.

Jayapura, Jubi – Aspirasi soal perubahan nama Kota Jayapura kembali digaungkan oleh sejumlah kelompok masyarakat di kota tersebut.

Apa alasannya? Adalah Marthin Matius Chaay kepala suku Chaay dari keondoafian Kajoe Pulo Kota Jayapura yang menginginkan nama Jayapura segera diganti dengan nama Numbay. Nama itu, menurut Marthin Matius Chay, mencerminkan karakter masyarakat di Port Numbay.

Marthin bercerita dulu pernah mantan Wali Kota Jayapura, MR Kambu, melakukan diskusi publik dan saat itu diusulkan nama Port Numbay dan Kota Tabi.

Saat itu, kata dia, banyak pihak menyetujui nama Port Numbay tetapi kata Port itu masih menggunakan bahasa asing sehingga sebaiknya Numbay saja. Hal senada juga dikatakan Lucky Ireeuw, tokoh muda dari Teluk Youtefa. Bahwa nama Jayapura itu sebaiknya Numbay.

Menurut Ireeuw memakai Port Numbay itu kesannya sangat politis sama dengan Port Villa di Vanuatu atau Port Moresby di PNG. "Port itu masih tergolong bahasa asing,” katanya kepada Jubi, di sela-sela semilola KPKC KLasis Port Numbay di Jayapura, belum lama ini.

Sebelum bernama Jayapura, ibu kota Provinsi Papua ini punya beberapa nama. Sejak pertama kali Kapten Infanteri FJP Sachse mendarat di Teluk Youtefa pada 7 Maret 1910 memberi nama Hollandia. Nama ini terus bertahan selama Belanda masih memerintah di wilayah Nederlands Nieuw Guinea hingga 1963.

Setelahnya, namanya menjadi Kota Baru dan sebagai penghargaa kepada Presiden Sukarno, nama ibukota Provinsi Irian Barat berubah lagi menjadi Sukarnopura.

Sejak tumbangnya rezim Orde Lama (Orla), Presiden Soeharto meresmikan kota Jayapura yang berarti kota kemenangan pasca Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969.

Padahal nama Sukarnopura sendiri diganti setelah peristiwa G 30 S PKI 1965 sehingga nama itu pun hilang dan Kota Jayapura bertahan sampai sekarang. Arti Jayapura sendiri mirip dengan nama kota Jaipur di negara bagian Rajastan di India, sesuai dengan bahasa Sansekerta berarti kemenangan dan pura artinya kota.

Kini, generasi muda Tabi dari Teluk Humbold dan Youtefa kembali menginginkan nama asli yang berasal dari wilayah kebudayaan Tabi. Tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan usulan maupun pendapat sepanjang masih bisa diterima oleh semua pihak dan melalui konsultasi publik sebagaimana pernah dilakukan mantan Wali Kota Jayapura, MR Kambu.

Mungkin hanya nama Hamadi saja yang sangat melekat dengan penduduk warga Kota Jayapura khususnya masyarakat di Teluk Youtefa. Sedangkan hampir sebagian besar di wilayah Kota Jayapura masih melekat di telinga orang Papua maupun orang non Papua nama nama asing terlebih bahasa Inggris sejak peninggalan Perang Pasifik.

Sebut saja Army Post Office yang biasa disingkat APO, Base G di wilayah adat keondoafian Kayu Batu, termasuk Santarosa dan Polimac road.

Sedangkan nama Entrop karena ketika itu seorang Belanda pengusaha sawmill Mener Entrop karena warga menyebut namanya sehingga Entrop lebih dikenal dan terus bertahan sampai sekarang.

Tentara sekutu masuk ke Papua setelah pendudukan Jepang di Teluk Humbold pada 19 April 1942. Dua tahun kemudian tepatnya pada 22 April 1944 tentara sekutu Amerika Serikat menghujani Hollandia dengan peluru dan bom guna mengusir tentara pendudukan Jepang.

Mendiang Pdt Silas Chaay, ayah kandung Marthin Chaay, menuturkan mereka mengungsi ke kampung Ormu setelah Perang Dunia Kedua atau Perang Pasifik.

“Kami kaget karena kebun-kebun sudah berubah jadi kota dan namanya menjadi Army Post Office atau APO,” kata Marthin Chaay, mengutip pernyataan ayah kandungnya. Begitu pula dusun-dusun sagu di Kali Anafre sudah hilang dan ada jembatan melintasi Kota Hollandia ketika itu.

Sekadar catatan Jubi, sisa-sisa nama yang diberikan Tentara Sekutu Amerika Serikat selama Perang Pasifik berkecamuk mulai dari Base G atau Tanjung Ria, Army Docks yang kemudian menjadi Dok II, Dok IV, Dok V, Dok VII, Dok VIII, dan Dok IX. (*)

JUBI.CO.ID


BERITA TERKAIT