56 Tahun Beri Pelayanan Penggembalaan di Papua, Pastor Frans Lieshout OFM Pamit Pulang ke Belanda
JUBI.CO.ID | 30/10/2019 17:00
56 Tahun Beri Pelayanan Penggembalaan di Papua, Pastor Frans Lieshout OFM Pamit Pulang ke Belanda
Pastor Frans Lieshout OFM (lingkaran) di Epouto, Wisselmeren tahun 1969 – fotografer : Jos Donkes

Jayapura,Jubi – Setelah 56 tahun lamanya berkarya sebagai seorang Imam Katolik di tanah Papua,terutama di wilayah adat Lapago dan Meepago, Pastor Frans Lieshout, OFM segera tinggalkan tanah Papua dan kembali ke negerinya di Montfoort, Belanda.

Pastor Frans Lieshout adalah sosok yang tidak asing asing bagi Umat Katolik di Tanah Papua. Terutama di Pegunungan Tengah di Wilayah Lapagoo dan Meepago.

BACA: Rapsodia #24, penghormatan Ananda Sukarlan untuk Pastor Neles Tebay

Emanuel Petege, salah satu tokoh cendekiawan Katolik dari Meepago mengatakan, air matanya tak tertahankan ketika Pastor Frans memutuskan untuk pensiun dari pelayanan kegembalaan dan pulang terus ke negeri Belanda, setelah 56 tahun mengabdi dan berkarya di tanah Papua.

“Saya terkejut dan kaget mendengar berita melihat postingan beberapa teman di sosial media bahwa kemarin tanggal 26 Oktober 2019 Pastor memimpin misa terakhir di Kapela Pilamo Angkasapura Jayapura sebagai tanda perpisahan dengan umat Katolik di tanah Papua untuk selanjutnya akan pulang terus ke negeri Kincir Angin di benua biru Eropa,” kata Emanuel Petege kepada Jubi, Rabu, (30/10/2019).

Menurut dia, selama ini Pastor Frans menerbitkan beberapa buku penting tentang kultur orang asli Papua, salah satu buku yang terkenal ialah ‘Sejarah Gereja Katolik di Lembah Baliem Papua’ setebal 424 halaman.

Markus Haluk, umat Katolik dari Keuskupan Jayapura mengatakan, selama 56 tahun Pastor Frans telah menjadi garam dan terang di tanah Papua. Ia menjadi ap hesek, kain kok yang artinya gembala, nabi, guru, bapa, tete, dan saudara bagi rakyat Papua di Pegunungan Papua.

Menurut Haluk, banyak kerja nyata, perubahan, dan kesuksesan dari tangan Pastor hasilkan selama 56 tahun. Waktu ini bukan singkat, jadi kalau diurut, ditulis maka satu rim kerja HVS tidak cukup.

“Tapi saya hanya mau angkat beberapa hal memperkuat apa yang pastor lakukan, yakni di tengah Suku Moni, ia membangun Bandara Ilaga, berperan aktif dalam bidang pendidikan, di antaranya Pastor Anton Belau, OFM (Alm) Imam pertama dari suku Moni, Pak John Mirip, Agus Zonggonau dan banyak tokoh lainnya. Selama melaksanakan tugas pengembalaan di Bilogai, pastor terus membangun koordinasi dengan para kepala suku setempat diantaranya kepala suku Bilogai Bapak Belaumbula Belau,” tuturnya.

Ketika Pastor Frans bertugas di tengah suku Amungme, Mee dan suku-suku lainnya di tanah Papua sebagai rektor pastor telah menghasilkan 1001 kaum terdidik, rohaniawan, nasionalis Papua.

“Selama menjadi pastor paroki Gereja Katedral memperjuangkan lahirnya kelompok kategorial Katolik Baliem dan Mee, Papua. Ia melakukan survei, ternyata 50 persen orang Katolik di Paroki Katedral tidak berperan aktif, duduk di belakang, tinggal di kaki gunung, bukit lereng. Maka mendorong partisipasi di dalam Gereja. Lahirnya Kashuokta merupakan bagian dari proses ini,” katanya.

Saat bertugas di Biak, kata dia, Pastor juga menjadi simbol pemersatu di tengah Katolik Konservatif suku-suku, (Key-Jawa, Flores), juga mendorong kemajuan pendidikan, pendampingan anak-anak Baliem, salah satunya Pastor menangkap Diakon Daud Wilil, Pr yang akan ditahbiskan Imam pada 24 November 2019.

BACA:  Pemuda Papua diajak jauhi minuman beralkohol

Di Baliem ia bertugas selama 26 tahun. Karya tangannya tidak terbilang. Ia menjadi ap hesek, ap metek bagi aliansi konferedasi di Baliem, termasuk menghadapi ancaman operasi dari aparat.

“Pastor telah dan terus kerja keras mengintegrasikan adat dan Gereja Katolik. Pastor adalah tokoh dan pejuang Inkultasi, rekonsiliator, dialog dalam gereja Katolik di Balim (Papua). Pastor juga seorang guru dalam pendidikan orang Baliem. Pastor juga pemecah misteri setelah 54 tahun mengapa orang Baliem tidak bisa menjadi Imam, yang hasilnya saat ini 10 orang Imam Baliem, satu Diakon, para suster lahir dalam kurun waktu 7 tahun (2012-2019),” katanya.

JUBI.CO.ID


BERITA TERKAIT