Pamit Pulang ke Belanda Setelah 56 Tahun di Papua, Siapa Pastor Frans Lieshout OFM?
JUBI.CO.ID | 31/10/2019 14:28
Pamit Pulang ke Belanda Setelah 56 Tahun di Papua, Siapa Pastor Frans Lieshout OFM?
Pastor Frans Lieshout OFM (lingkaran) di Epouto, Wisselmeren tahun 1969 – fotografer : Jos Donkes

Jayapura, Jubi - Pastor Frans Lieshout, OFM segera tinggalkan tanah Papua dan kembali ke negerinya di Montfoort, Belanda.Sudah 56 tahun lamanya ia berkarya sebagai seorang Imam Katolik di tanah Papua,terutama di wilayah adat Lapago dan Meepago.

Siapa Pastor Frans Lieshout? Emanuel Petege, salah satu tokoh cendekiawan Katolik dari Meepago mengatakan Pastor Frans menerbitkan beberapa buku penting tentang kultur orang asli Papua, salah satu buku yang terkenal ialah ‘Sejarah Gereja Katolik di Lembah Baliem Papua’ setebal 424 halaman.

BACA: APBD Papua TA 2020 sebesar Rp 14,6 triliun

Markus Haluk, umat Katolik dari Keuskupan Jayapura mengatakan, selama 56 tahun, Pastor Frans telah menjadi ap hesek, kain kok yang artinya gembala, nabi, guru, bapa, tete, dan saudara bagi rakyat Papua di Pegunungan Papua.

Haluk mengatakan berada di tengah-tengah Suku Moni, Pastor Frans membangun Bandara Ilaga dan berperan aktif dalam bidang pendidikan.

Saat bertugas di tengah suku Amungme, Mee dan suku-suku lainnya di tanah Papua sebagai rektor pastor telah menghasilkan 1001 kaum terdidik, rohaniawan, nasionalis Papua.

Haluk menjelaskan selama menjadi pastor paroki Gereja Katedral, Pastor Frans memperjuangkan lahirnya kelompok kategorial Katolik Baliem dan Mee, Papua.

Ia melakukan survei, ternyata 50 persen orang Katolik di Paroki Katedral tidak berperan aktif, duduk di belakang, tinggal di kaki gunung, bukit lereng. Maka mendorong partisipasi di dalam Gereja.

Saat bertugas di Biak, kata dia, Pastor juga menjadi simbol pemersatu di tengah Katolik Konservatif suku-suku, (Key-Jawa, Flores), juga mendorong kemajuan pendidikan, pendampingan anak-anak Baliem.

Di Baliem ia bertugas selama 26 tahun. Karya tangannya tidak terbilang. Ia menjadi ap hesek, ap metek bagi aliansi konferedasi di Baliem, termasuk menghadapi ancaman operasi dari aparat.

BACA: Presiden minta PUPR pastikan pengusaha Papua jadi tuan di tanah sendiri

Menurut Haluk, Pastor Frans telah dan terus mengintegrasikan adat dan Gereja Katolik. Pastor adalah tokoh dan pejuang Inkultasi, rekonsiliator, dialog dalam gereja Katolik di Balim (Papua).

Pastor juga seorang guru dalam pendidikan orang Baliem. Pastor juga pemecah misteri setelah 54 tahun mengapa orang Baliem tidak bisa menjadi Imam, yang hasilnya saat ini 10 orang Imam Baliem, satu Diakon, para suster lahir dalam kurun waktu 7 tahun (2012-2019),” katanya.

Pada 26 Oktober 2019 lalu, Pastor Frans telah memimpin misa terakhir di Kapela Pilamo Angkasapura Jayapura sebagai tanda perpisahan dengan umat Katolik di tanah Papua untuk selanjutnya akan pulang terus ke negeri Kincir Angin di benua biru Eropa.

JUBI.CO.ID


BERITA TERKAIT