Warga Sikka Gelar Ritual Adat Meminta Hujan Setelah Prakiraan BMKG Meleset
JUBI.CO.ID | 11/02/2020 17:01
Warga Sikka Gelar Ritual Adat Meminta Hujan Setelah Prakiraan BMKG Meleset

Kupang, Jubi – Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Mauritius Terwinyu da Cunha, mengemukakan masyarakat di sejumlah daerah setempat menggelar ritual adat untuk meminta hujan turun di salah satu kabupaten di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur itu.

“Masyarakat, seperti di Kecamatan Kangae, di Watumilok, dan pekan lalu di Tanah Duen sudah menggelar ritual adat meminta hujan,” katanya ketika dihubungi dari Kupang, Selasa (11/2/2020).

Dia menjelaskan wilayah-wilayah tersebut berada di bagian utara Sikka yang saat ini dilanda kekeringan yang dampaknya kondisi tanaman menjadi layu dan stres.

Kekeringan itu, lanjutnya, juga mengakibatkan serangan hama ulat grayak menyebar dengan cepat dan merusak ribuan hektare tanaman milik petani setempat. “Mudah-mudahan dengan pendekatan kearifan budaya lokal seperti ini bisa turun hujan sehingga tanaman petani tidak rusak total,” katanya.

 

Mauritius menjelaskan berdasarkan prakiraan BMKG, wilayah Sikka diguyur hujan pada dasarian II, yakni Desember 2019 hingga puncaknya pada Januari-Februari 2020. “Tapi ternyata meleset semua. Di wilayah utara Sikka masih sangat kering dibandingkan dengan wilayah tengah dan selatan,” katanya.

Dia menjelaskan saat ini hama ulat grayak telah menyerang lahan tanaman jagung milik petani di daerah itu mencapai 2.540 hektare. Kondisi kekeringan ini, kata dia, menjadi penyebab utama ulat grayak berkembangbiak dan menyebar dengan cepat.

“Jadi hanya hujan saja yang bisa menyelamatkan kondisi ini, karena itu masyarakat sudah melakukan ritual adat meminta hujan sehingga kita berharap terwujud,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, sejumlah petani di Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, menyebut hasil panen jagung mereka untuk musim panen kali ini menurun akibat ulat grayak yang menyerang tanaman jagung di daerah setempat.

“Hasil jagung kami kali ini pasti menurun dari target karena memang kondisi sekarang banyak tanaman rusak akibat terserang ulat grayak,” kata Kamilus Tupen, seorang petani di Desa Tuwagetobi, Kecamatan Witihama, Flores Timur, Senin (10/2/2020).

Dia mengatakan masa panen tanaman jagung di daerah itu akan dimulai sekitar 15 April, namun bisa dipastikan tidak mencapai target seperti biasanya.

Untuk satu hektare tanaman jagung, lanjut dia, ditargetkan menghasilkan delapan ton jagung, namun dengan kondisi serangan ulat grayak saat ini maka target tersebut tidak bisa tercapai. “Memang hasilnya akan menurun tapi kami berharap tidak terlalu jauh sehingga tidak banyak kerugian bagi petani,” katanya.

Kamilus menjelaskan serangan ulat grayak saat ini sangat meresahkan para petani setempat dan selalu dikeluhkan dalam berbagai kesempatan pertemuan di desa. Dia menambahkan tantangan petani seperti di Desa Tuwagetobi dalam tahun ini cukup besar karena tidak hanya ulat grayak tapi kondisi angin kencang dan populasi tikus yang sangat banyak di kebun-kebun juga menjadi ancaman. (*)

JUBI.CO.ID


BERITA TERKAIT