Terdakwa Makar, Assa Asso Jelaskan Aktivitasnya sebagai Sineas dan Fotografer
JUBI.CO.ID | 11/06/2020 10:30
Terdakwa Makar, Assa Asso Jelaskan Aktivitasnya sebagai Sineas dan Fotografer
Massa yang tergabung dalam Mahasiswa Papua melakukan aksi di Jalan Merdeka, Bandung, Selasa, 27 Agustus 2019. Mereka menolak pernyataan rasisme terhadap orang Papua serta meminta pemerintah untuk menangkap pelaku pengepungan asrama Papua di Surabaya. ANTARA/Raisan Al Farisi

Jayapura, Jubi – Setelah beberapa kali tertunda, proses persidangan Assa Asso, salah satu warga yang dijadikan terdakwa makar dan penghasutan untuk melawan perintah penguasa pasca unjukrasa anti rasisme Papua, kembali dilanjutkan pada Selasa (9/6/2020).

Saat diperiksa sebagai terdakwa, Assa Asso menjelaskan aktivitasnya sebagai sineas dan fotografer membuatnya sering mengabadikan berbagai peristiwa di Kota Jayapura.

Assa Asso, terdakwa perkara dugaan makar yang ditangkap pasca unjukrasa anti rasisme Papua pada 29 Agustus 2019 yang berkembang menjadi amuk massa di Kota Jayapura.

Dalam surat dakwaan untuknya, Asso didakwa makar dan penghasutan untuk melawan perintah penguasa gara-gara unggahan status facebook. Pada Selasa, Asso diperiksa sebagai terdakwa, dan menjelaskan aktivitasnya sebagai sineas dan fotografer.

Assa Asso menjelaskan sebagai sineas ia aktif dalam Komunitas Papuan Voice’s. Ia juga suka memotret, dan aktif dalam Komunitas Papuans Photo. Asso menjelaskan film karya yang berjudul “Salon Papua” pernah meraih peringkat film dokumenter terbaik ke-6 dalam Festival Film Papua 2017.

Asso menjelaskan dirinya ditangkap karena unggahan status facebook yang didakwa jaksa sebagai tindakan makar merupakan unggahan foto dan unjukrasa anti rasisme. Advokat Koalisi Penegak Hukum dan Hak Asasi Manusia Papua, Emanuel Gobai selaku penasehat hukum Asso menyatakan kesaksian Asso bisa mengurai tepat tidaknya ia dijadikan terdakwa makar.

“Yang pertama, Assa Asso adalah fotografer yang tergabung dalam Papuans Foto. Dia juga video maker, [aktif di komunitas] Papuan Voices. Sebagai video maker, ia telah membuat dua film dokumenter, ‘Salon Papua’ dan ‘Hidup di Penjara’. Assa bahkan pernah meraih penghargaan,” kata Gobai.

Gobai menuturkan Assa Asso mengakui juga bahwa pada tahun 2010-2011 dia pernah menjadi anggota Komite Nasional Papua Barat, dengan status anggota biasa. Akan tetapi, sejak kematian Mako Tabuni yang ditembak polisi pada 2012, Assa Asso keluar dari KNPB, dan memilih menjadi sineas dan fotografer.

“Ia, selalu mengambil video dan foto [peristiwa] yang menurutnya layak [diabadikan]. Pengambilan foto dan video itu dilakukan dalam kegiatan [atau acara resmi], dan juga dilakukan di luar kegiatan [atau acara resmi], sesuai konteksnya,” kata Gobai.

Gobai menyebut Assa Asso mengabadikan momentum aksi anti rasisme yang berlangsung di Kota Jayapura pada 19 Agustus 2019. Aksi ribuan warga Kota Jayapura itu muncul sebagai reaksi dan kecaman terhadap tindakan atau ujaran rasisme yang dilakukan sekelompok oknum aparat keamanan dan anggota organisasi kemasyarakat terhadap para mahasiswa Papua di Surabaya pada 16 Agustus 2019.

Assa Asso antara lain mengabaikan aksi para warga di Gapura Kampus Universitas Cenderawasih, Kantor Otonom Kotaraja, dan Kantor Gubernur.

Gobai menyatakan Asso menghadiri unjukrasa itu karena menerima sejumlah telepon dari para warga Yahukimo, yang memintanya untuk mengecek kondisi para mahasiswa asal Yahukimo.

“Kebetulan Assa Asso adalah tergolong senior di kalangan mahasiswa sesukunya. Selama unjukrasa, Asso memotret, sekaligus memastikan kondisi para mahasiswa [asal Yahukimo]. Dia memastikan adik adiknya di lapangan, anggota sesukunya, [lalu] dia [berkabar] kepada keluarga, kepada para orangtua, memastikan [anak] mereka juga aman-aman saja. Keliru jika dia ditangkap dengan alasan mengunggah foto, padahal dia melakukan pekerjaanya,” katanya.

Menurut Gobai unggahan status Assa di Facebook itu murni luapan emosi, karena marah melihat tindakan dan ujaran rasisme yang dialami para mahasiswa Papua di Surabaya. Gobai menyatakan unggahan status itu pun tidak mengarah kepada ajakan untuk melakukan demonstrasi.

Penasehat hukum Assa Asso, Helmi, menyatakan akan mulai menghadirkan para saksi untuk meringankan Assa Asso pada Senin (15/6/2020). “Kami akan menghadirkan saksi yang bisa meringakan Assa dalam persidangan Senin 15/6/2020). Kalau merujuk keterangan Assa Asso, dia memang tidak bersalah, namun terkena upaya kriminalisasi,” kata Helmi.(*)

JUBI.CO.ID


BERITA TERKAIT