PGI Pusat Minta Keadilan untuk 7 Terdakwa Makar asal Papua
JUBI.CO.ID | 12/06/2020 15:25
PGI Pusat Minta Keadilan untuk 7 Terdakwa Makar asal Papua

Jakarta, Jubi – Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) membuat pernyataan setelah mengikuti dengan seksama proses peradilan atas tujuh Tahanan Politik (Tapol) Papua yang didakwa melakukan tindakan makar, sebagai buntut demonstrasi anti rasisme oleh masyarakat Papua pada 16 Agustus 2019 di Surabaya.

Irma Riana Simanjuntak,humas PGI mengatakan pernyataan itu sekaligus untuk mengingatkan majelis hakim agar bertindak adil dan mengedepankan hati nurani.

Pihaknya menilai tuntutan jaksa atas para pemuda Papua yang teramat tinggi itu terbilang janggal. Terlebih jika dibandingkan dengan vonis yang dijatuhkan kepada pelaku rasisme di Surabaya, yang hanya diganjar kurungan badan kurang dari satu tahun.

“Padahal para pemuda itu melakukan protes sebagai reaksi atas tindakan rasisme di Surabaya, mereka hanya memperjuangkan harkat dan martabat mereka sebagai orang Papua,” ujarnya kepada Jubi lewat percakapan telepon, Jumat 12 Juni 2020.
 

Berikut tiga poin pernyataan PGI pusat yang dikeluarkan di Jakarta, 11 Juni 2020. Rilis ini disampaikan untuk mendorong terciptanya keadilan dan perdamaian  dalam kehidupan berbangsa dan bernegara:

Pertama, Keprihatinan mendalam atas proses penanganan kasus demonstrasi yang tidak mengedepankan pendekatan      kultural dan dialog kemanusiaan. Pemolisian pemuda hingga ke proses peradilan saat ini akan semakin         memicu ketidakpercayaan masyarakat Papua terhadap proses penegakan hukum di Indonesia.

Kedua,  Kami lebih prihatin lagi mendengar tuntutan jaksa atas para pemuda tersebut berupa 17, 15, 10 dan 5 tahun, yang menurut kami sangat jauh dari rasa keadilan dan kepatutan, apalagi bila dibandingkan dengan putusan PN Surabaya yang sudah memvonis pelaku rasisme terhadap mahasiswa Papua —hanya 5 bulan potong masa tahanan— yang menyulut aksi demonstrasi para pemuda tersebut.

 

Ketiga, Kami berdoa agar Majelis Hakim yang memimpin persidangan ini diberi hikmat oleh yang Maha Kuasa untuk mempertimbangkan latar belakang terdakwa yang terseret dalam kasus ini, karena memperjuangkan pembelaan terhadap harkat dan martabat orang Papua terkait tindakan rasisme yang dilakukan terhadap
mahasiswa asal Papua di Surabaya.

Keempat, Mendorong pemerintah dan masyarakat Papua untuk menempuh jalan dialog yang bermartabat, serta menyingkirkan pilihan jalan kekerasan dalam semua upaya membangun Papua Tanah Damai.

Sebelumnya, Koordinator Jaringan damai Papua dan Pastor-Pastor Katolik Pribumi dari lima keuskupan se-regio Papua Pastor Jhon Bunai, Pr meminta Buchtar Tabuni CS yang menjadi Tapol di Kalimantan, mendapatkan keadilan dari pengadilan.

Sebab menurut pihaknya, mereka bukan pelaku ujaran rasisme, melainkan menjadi korban atas tindakan Rasisme itu sendiri.

“Kami mengutuk ketidak adilan dalam penegakan hukum yang dilakukan oleh JPU, Majelis Hakim kepada 7 tahanan politik. JPU menuntut Irwanus Uropmabin lima tahun penjara dan Buchtar Tabuni 17 tahun penjara. Steven Itlay 15 tahun penjara, Agus Kossay 15 tahun penjara, Alexander Gobay 10 tahun penjara, Fery Kombo 10 tahun penjara, dan Hengki Hilapok lima tahun penjara,” katanya saat menggelar jumpa pers di aula Kondius, Senin (8/6/2020).(*)

JUBI.CO.ID


BERITA TERKAIT