Zaki Guru Honorer Asal Aceh yang Mengajarkan Anak-anak Pedalaman Papua Belajar Membaca
JUBI.CO.ID | 10/07/2020 12:00
Zaki Guru Honorer Asal Aceh yang Mengajarkan Anak-anak Pedalaman Papua Belajar Membaca
Almarhum Muhammad Zaki mengajar anak-anak di Kabupaten Intan Jaya, Papua membaca – Dok Pribadi.

Nabire, Jubi – “Zaki sudah saya anggap anak saya, ia bebas di rumah seperti anak saya sendiri, saya kehilangan dia,” kata Oktovianus Malatuni kepada Jubi di Nabire, Senin, 6 Juli 2020.

Talatuni adalah kepala Bidang Pembinaan Tenaga Pendidik dan Kependidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua.

Ia mengatakan, Muhammad Zaki dan kawan-kawannya yang lain peserta program Guru Penggerak Daerah Tertinggal (GPDT) Gugus Tugas Papua Universitas Gadjah Mada (UGM) bertugas di Intan Jaya sejak 2016 sudah seperti anak-anaknya sendiri.

“Mereka ke rumah, makan, minum bebas layaknya seorang anak,” ujarnya.

Karena itu, kata Malatuni, ia dan rekan-rekan Zaki selalu memperhatikannya sejak sakit dan mengurusnya hingga ke peristirahatan terakhir.

“Karena Zaki adalah guru terbaik yang memiliki perhatian untuk pendidikan, terutama di Intan Jaya, Papua,” katanya.

Karena itu, Malatuni mengaku sempat marah dan berkata kasar kepada petugas di RSUD Nabire ketika Zaki dirawat.

“Karena itu anak saya dan andaikan tidak terjadi pembatasan sosial, kami sebenarnya berencana untuk merujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap seperti Jayapura atau lainnya, bukan berarti kami remehkan RSUD Nabire, tetapi ingin yang terbaik untuk almarhum,” kata Malatuni.

Muhammad Zaki sampai di Kabupaten Intan Jaya bersama 41 guru lainnya sebagai peserta Guru Penggerak Daerah Tertinggal (GPDT) yang dikelola Universitas Gadjah Mada (UGM).

Guru-guru tersebut disebar untuk mengajar di berbagai sekolah dan Zaki mendapat tugas mengajar di SD Mbiandoga, Distrik Mbiandoga.

Menurut Malatuni, selama bertugas kemampuan Zaki sangat luar biasa.

Tentu selain persiapan yang dilakukan UGM dan Pemkab Intan Jaya sebelum terjun ke lapangan, Zaki juga sudah berpengalaman mengajar di Aceh, tempat asalnya.

Dinas Pendidikan, kata Malatuni, saat pertama bertugas sudah memberikan gambaran bahwa kondisi di pedalaman, khususnya Intan Jaya berbeda dengan daerah lain, seperti budaya dan tatanan kehidupan masyarakat setempat.

Termasuk akses transportasi yang belum memadai, yaitu hanya dapat dilewati kendaraan roda dua ojek atau berjalan kaki menelusuri gunung dan lembah berliku.

“Kami telah memberikan gambaran kepada mereka dan pesan kami, jangan dengar omongan orang dari luar, sebab kondisi di lapangan yang akan menjawab, siapa orang Papua sebenarnya,” ujarnya.

Para guru peserta program GPDT, kata Malatuni, hidup berbaur dengan masyarakat setempat.

“Tanpa memandang status, tetapi selalu hidup berdamping dan selalu akrab dengan masyarakat di sana,” kata Otis, sapaan akrabnya.

BACA KISAH SELENGKAPNYA DI JUBI.CO.ID


BERITA TERKAIT