Tambang Emas Yang Mengubah Wajah Hutan Korowai
JUBI.CO.ID | 15/07/2020 11:50
Tambang Emas Yang Mengubah Wajah Hutan Korowai
Penambang emas ilegal di Korowai, Papua - Antara News

Jayapura, Jubi – Butiran emas di lokasi pertambangan emas rakyat berada di tengah hutan Korowai, Papua menjadi tempat meraup rejeki dan memberikan hidup bagi warga nusantara di tanah air.

Suku Korowai adalah suku yang baru ditemukan keberadaannya sekitar 30 tahun silam di pedalaman Papua. Suku terasing ini hidup di rumah yang dibangun di atas pohon biasa disebut rumah tinggi.

Ketinggian rumah yang dibangun di atas pohon itu bisa mencapai 50 meter dari permukaan tanah. Suku Korowai adalah salah satu suku di daratan Papua yang tak mengenakan koteka.
Awal penambangan emas ilegal di Korowai, Papua 1 i Papua

Pertambangan emas di wilayah Korowai bermula dari pembukaan jalan trans Yahukimo-Oksibil. Jalan itu menghubungkan dua kabupaten, yakni Kabupaten Yahukimo dan Pegunungan Bintang.

Proyek jalan itu dikerjakan oleh PT.Brantas dan PT.Mika sejak 2015. Jalan itu melewati sebagian wilayah Korowai. Excavator yang digunakan, saat mengeruk gunung sekitar Korowai, keluar butiran emas.

Namun, bos dari PT.Brantas melarang karyawannya mengambil. Emas yang ditemukan dibiarkan. Proyek jalan terus berlanjut. Pada 2016, salah satu pengusaha bernama Ungge, mulai mencari tahu lokasi emas tersebut.

Ketika mencari tahu, Ungge bertemu dua warga Korowai, mereka adalah Yulius Wikira dan Lukas Yarik. Lukas lalu mengantar Ungge menunjuk lokasi emas ditemukan.

Kala itu, warga Korowai tak tahu cara mendulang emas, sehingga hanya sebagai penonton. Ungge memanfaatkan ketidaktahuan warga menguasai emas yang ditemukan. Bahkan, menyuruh warga lokal mendulang emas.

Nyaris dua tahun, Ungge mengeruk emas secara diam-diam. Pada 2017 ketahuan dari aparat kepolisian kalau emas yang dikeruk ilegal, akhirnya ia ditangkap Polisi.

Setelah penangkapan, Kapolda Papua kala itu dijabat oleh Irjen Pol Boy Rafli Amar beserta rombongan terbang dari Jayapura ke Boven Digoel untuk menemui masing-masing tuan dusun/pemilik lokasi pertambangan.

“Waktu itu rombangan Polda Papua bertemu dengan kami tuan dusun, langsung tanya mana tuan dusun, setelah mereka sampaikan ke kami bahwa pertambangan emas ini ilegal sehingga harus ditutup,” kata tuan dusun Mining 33, Ben Yarik.

BACA KISAH LENGKAPNYA DI JUBI.CO.ID


BERITA TERKAIT