Keluarga Pendeta Yeremia Tolak Autopsi, Bagaimana Respon Polisi
JUBI.CO.ID | 12/11/2020 15:45
Keluarga Pendeta Yeremia Tolak Autopsi, Bagaimana Respon Polisi

Jakarta, Jubi – Mabes Polri menyatakan proses penyidikan atas pembunuhan Pendeta Yeremia Zanambani di Intan Jaya, Papua, masih terganjal oleh penolakan keluarga yang menolak upaya otopsi terhadap jenazah korban.

“Inilah yang jadi permasalahan di dalam proses penyidikan. Bagaimana kami menentukan kematiannya kalau tidak ada otopsi,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigadir Jenderal Awi Setiyono kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (11/11), sebagaimana dikutip CNN Indonesia.

Menurutnya, pihak Rumah Sakit Bhayangkara Makassar telah meminta agar proses autopsi itu dilakukan di Kabupaten Mimika. Dia mengklaim, proses otopsi tidak akan berjalan kondusif apabila dilakukan di Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Lewat otopsi ini kata dia, penyidik bisa membuktikan secara pasti sebab kematian korban. Apakah akibat tertembak atau alasan lain.

Hingga saat ini penyidik Polda Papua masih terus melakukan negosiasi dengan keluarga korban. Awal November lalu, Kepala Kepolisian Daerah Papua, Irjen Paulus Waterpauw mengatakan pihaknya masih berkomunikasi dengan sejumlah pihak, mempersiapkan penggalian makam dan otopsi Pendeta Yeremia Zanambani.

Waterpauw menyatakan pihaknya akan melibatkan tim dokter forensik dari Makassar untuk melakukan otopsi jenazah Pendeta Yeremia Zanambani. Waterpauw meminta kerja sama Pemerintah Kabupaten Intan Jaya dan para tokoh di Sugapa dan Hitadipa, agar proses penggalian makam dan otopsi jenazah Pendeta Yeremia Zanambani berjalan lancar.

 

Waterpauw menyebut ada dua kemungkinan teknis pelaksanaan otopsi jenazah Pendeta Yeremia Zanambani. Kemungkinan pertama, jenazah diterbangkan ke Timika, dan diotopsi di sana. Kemungkinan kedua, otopsi dilakukan di Intan Jaya.

“Kami tetap akan hitung dampak-dampaknya. Apakah dibawa ke Timika atau diotopsi di tempat. Kalau seandainya [diotopsi] di tempat, maka faktor cuaca serta lainnya harus dipersiapkan secara baik. Jangan nanti ketika tim medis mau melakukan otopsi, malah kuatir lantaran mendapat gangguan, sehingga mengakibatkan mereka tidak bekerja dengan maksimal,” katanya.

Waterpauw menyatakan pihaknya telah menerima permintaan dari keluarga Pendeta Yeremia Zanambani untuk menghadirkan Komnas HAM.

Beberapa tim telah dibentuk untuk membongkar kematian Yeremia. Temuan tersebut semakin memperkuat dugaan bahwa pelakunya adalah personel TNI.

Bahkan Komnas HAM mengkategorikan dua terduga pelaku, yakni pelaku langsung dan tidak langsung.

Pelaku langsung, sama seperti keterangan Tim Independen Kemanusiaan untuk Intan Jaya, adalah Alpius, Wakil Danramil Hitadipa. Alpius kerap ditolong pendeta Zanambani. bahkan dianggapnya sebagai anak. Sementara pelaku tidak langsung adalah pihak pemberi perintah pencarian senjata yang hilang atau pencarian keberadaan gerilyawan Papua merdeka.

Sebelumnya, Komnas HAM RI menyatakan pihak keluarga setuju, jika jenazah Pendeta (Pdt) Yeremias Zanambani diotopsi. Akan tetapi, saat proses itu dilakukan, Komnas HAM RI hadir di lokasi mendampingi keluarga korban.

Pernyataan itu dikatakan Komisioner Komnas HAM RI, Choirul Anam dalam keterangan persnya di Kantor Komnas HAM perwakilan Papua, di Kota Jayapura pada Sabtu (17/10/2020). “Saat kami di lapangan keluarga korban meminta kami mendampingi proses autopsi. Mereka menjelaskan kenapa mau tanda tangan soal autopsi karena diperlukan pendampingan,” kata Choirul Anam.

Menurutnya, pihak keluarga menyatakan proses otopsi tidak boleh dilakukan, jika tidak didampingi komnas HAM. Untuk itulah Komnas HAM menyanggupi dan berkomitmen hadir mendampingi keluarga korban.

Pendeta Yeremias Zanambani tewas ditembak dan ditusuk benda tajam di Kampung Bomba, Distrik Hitadipa, Intan Jaya pada. Korban ditembak saat sedang berada di kandang babi pada 19 September 2020. (*)

JUBI.CO.ID


BERITA TERKAIT