Usaha Es Jeruk Peras di Jayapura, Papua Sebulan Beromzet Rp 15 Juta
JUBI.CO.ID | 28/03/2021 17:40
Usaha Es Jeruk Peras di Jayapura, Papua Sebulan Beromzet Rp 15 Juta
Ilustrasi jeruk dan jus jeruk. Shutterstock

Jayapura, Jubi – Pandemi Covid-19 tidak selamanya mematikan usaha kecil di Kota Jayapura, Papua. Sebagian usaha tetap bertahan, bahkan mendatangkan keuntungan.

Contohnya usaha yang ditekuni Jer dan Yatin. Keduanya penjual es jeruk peras yang setiap hari menjajakan jualannya dari pukul 10 pagi hingga pukul 4 sore, di Kota Jayapura, Papua. Di masa pandemi Covid-19 pendapatan mereka tetap stabil, bahkan sangat menguntungkan.

“Di Jayapura ini kendalanya cuaca saja, biasanya di Abe hujan nanti di Waena panas, cuacanya tidak menentu di sini,” ujarnya. 

Menurut pria asal Demak tersebut, berjualan es jeruk peras menguntungkan karena sangat digemari masyarakat, mulai dari kalangan anak-anak hingga orang dewasa. Juga tidak membutuhkan modal yang besar sehingga lebih praktis dan tidak merepotkan.

“Jualan begini kan modal kita cuma rajin-rajin saja,” katanya.

Untuk memulai usaha Jer mengeluarkan modal awal Rp5 juta. Kini dengan bermodalkan mesin peras jerus, galon untuk mengisi air gula, gelas plastik, termos untuk menyimpan es batu dan motor. Ia mampu memperoleh pendapatan dalam sehari Rp300 ribu hingga Rp500 ribu. Sehingga dalam sebulan Jer bisa mengantongi pendapatan Rp9 juta hingga Rp15 juta.

“Saya sehari bisa habiskan dua karung jeruk ukuran 25 kg, paling ramai hari Minggu pas orang-orang keluar ibadah,” katanya.

Selama pendemi ia tetap memakai masker ketika berjualan, menjaga jarak walaupun tidak mencuci tangan. Ketika pembabatan sosial bersakala besar berlaku selama dua minggu di Kota Jayapura, di mana aktivitas hanya diperbolehkan sampai pukul 2 siang, Jer mengaku tetap berjualan es jeruk peras. Setelah itu dilanjutkannya dengan bekerja sampingan sebagai buruh harian bangunan.

“Waktu itu kerja bangunan cuma dua minggu, setelah normal saya kembali jualan es jeruk sampai sekarang,” katanya.

Agar pelanggannya tetap setia, Jer memberikan pelayanan terbaik, salah satunya dengan tidak memakai pemanis makanan.

“Saya tidak pakai sari gula, cuma pakai gula pasir saja, kadang pembeli maunya air jeruk toh, itu kan butuh jeruk lebih banyak, tetap dilayani walaupun  hitung-hitungannya rugi,” ujarnya.

Hal yang sama juga disampaikan penjual es jeruk peras lainnya, Yatin. Ia biasa mangkal di samping SMP YPPK Gembala Baik Abepura. Yatin sudah tiga tahun berjualan es jeruk peras dari pukul 10 pagi hingga pukul 4 sore.

Sebelumnya Yatin berjualan mainan anak-anak, lalu berhenti karena kurang peminat dan semakin banyak pedagang mainan bermunculan di Kota Jayapura. Ia kemudian memulai berjualan es jeruk peras pada 2019. Menurutnya usaha tersebut bermodal kecil namun pendapatannya sangat menguntungkan.

“Usaha begini kan orang-orang kecil kaya kita ini bisa jangkau, seterusnya tinggal kita rajin saja,” katanya.

Modal awalnya hanya Rp2 juta untuk membeli mesin pemeras jeruk, galon, termos, dan membuat keranjang jeruk. Dalam sehari Yatin mampu berpendapatan Rp400 ribu hingga Rp500 ribu. Ia mengaku dalam sebulan mampu memperoleh omzet Rp12 juta hingga dengan Rp15 juta.

“Kalau lagi ramai bisa habiskan 100 gelas, harga per gelas saya jual Rp5 ribu,” ujarnya.

Di masa pandemi Covid-19, Yatin menaati protokol kesehatan dalam berjualan.

Ia bersyukur masih bisa memenuhi kebutuhan keluarganya di masa pendemi dengan berjualan es jeruk peras. “Cukuplah bisa penuhi kebutuhan keluarga dan tiap bulan bayar kontrakan Rp800 ribu,” katanya.

Yatin menyarankan khususnya kepada anak-anak muda untuk tidak malu memulai usaha, walaupun itu hanya berjualan es jeruk peras. “Tidak usah malu jualan, untuk sukses kita kan tidak harus jadi PNS to,” ujarnya.

Walaupun masih di masa pandemi, pelanggan setia masih berdatangan membeli es jeruk peras milik Jer dan Yatin. Mereka tertarik dengan kesegaran es jeruknya kerena tidak memakai pemanis makanan.

Salah satu pelanggan setia es jeruk peras Yatin adalah  Jeventus. Ia mengaku sudah menjadi pelanggan setia Yatin sehingga terkadang dalam sehari menghabiskan tiga sampai empat gelas es jeruk peras yang dibelinya dari Yatin. Menurutnya es jeruk yang dijual Yatin lebih segar karena tidak memakai pemanis buatan.

“Saya lebih senang beli di sini, lebih nikmat dan segar,” ujarnya saat membeli es jeruk peras Yatin. (*)

jubi.co.id


BERITA TERKAIT