Keerom Papua Banjir lagi, Tiang Listrik Terbawa Air
JUBI.CO.ID | 25/07/2021 21:35
Keerom Papua Banjir lagi, Tiang Listrik Terbawa Air
Warga mengamati lumpur akibat banjir bandang yang menerjang Waiwerang, Adonara Timur, Flores Timur, NTT, Senin, 5 April 2021. Bencana besar terakhir di NTT terjadi pada November 2010 dengan korban jiwa 31 orang. ANTARA/Pion Ratuloli

Jayapura, Jubi – Kawasan Arso 2 dan Swakarsa, Kabupaten Keerom dilanda banjir lagi sejak Minggu siang (25/7/2021) sekitar pukul 14.00 WP hingga Minggu malam.

Tidak ada korban jiwa akibat air setinggi kira-kira 1 meter, yang meluap dari Kali Tami dan menggenangi rumah warga dan badan jalan itu. Namun informasi yang dihimpun Jubi, Minggu malam menyebutkan, banjir itu juga mengakibatkan satu tiang listrik terbawa air, hingga listrik padam di kawasan Arso 2 dan Swakarsa.

Selain itu, banjir mengakibatkan sejumlah warga dievakuasi karena mereka tinggal di bantaran sungai, dan rumah panggung yang mereka diami rentan terbawa banjir.

Warga Pir 2, Kampung Yamta, Yoakim Rega mengatakan, dirinya bersama keluarga melintasi kawasan Jalan Trans Irian ketika banjir. Menurut dia, banjir terjadi karena Sungai Tami tidak mampu lagi menampung air yang mengalir deras dari arah Arso Timur, Wembi, dan Senggi.

“Memang baru kali ini banjir di bulan Juli tapi sepanjang 2021, kita sudah empat kali mengalami banjir,” kata Yoakim kepada Jubi, Minggu malam.

Hingga laporan ini diturunkan Pemerintah Kabupaten Keerom belum berhasil dihubungi. Demikian pun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Keerom.

Namun, Rega menginformasikan bahwa paguyuban-paguyuban lintas warga sudah berada di lokasi kejadian untuk mengantisipasi terjadinya banjir yang lebih besar. Foto-foto banjir tersebut juga beredar luas di media sosial.

Rega meminta Pemkab Keerom agar segera membuat talud untuk mengantisipasi banjir di Keerom.

“Jangan cuma wacana saja, tolong realisasikan pembuatan talud itu,” ujarnya.

Kejadian serupa kerap terjadi di Arso, Keerom. Pada Maret 2019, Keerom mengalami banjir, karena hujan lebih dari satu hari akibat Sungai Tami di Jembatan Skanto tak dapat menampung air lagi. Sebelumnya, Desember 2013 pernah terjadi banjir setinggi dua meter melanda sejumlah kampung, bahkan sebanyak 374 kepala keluarga mengungsi. Banjir terjadi karena hujan terus-menerus mengguyur wilayah Arso dan sekitarnya, hingga menyebabkan air dari Kali Tami, Kali Bewani dan Kali Skamto meluap.

Pada awal Februari 2021, banjir kembali menggenangi rumah warga di tiga distrik, yaitu, Arso, Arso Barat, dan Arso Timur. Hal ini mengakibatkan sebanyak 1.155 rumah terendam banjir dan sekitar 4.406 penduduk terdampak banjir, seperti dilaporkan sejumlah media per 10 Februari 2021

Warga Arso 8 yang juga Sekretaris JPKP (Jaringan Pendamping Kebijakan Pembangunan) Kabupaten Keerom, Stephen Licosta Loram mengatakan, banjir Minggu siang hingga malam mengakibatkan badan jalan tidak bisa dilalui kendaraan-kendaraan berbadan kecil, baik mobil, maupun motor. Hanya truk-truk yang bisa melintasi kawasan yang digenangi air.

Menurut Stephen, hingga Minggu malam kemungkinan curah hujan semakin deras dan akan berdampak banjir. Volume air pun sudah naik.

“Kita tetap waspada semoga Keerom aman dari banjir,” kata Stephen Loran.

Pengajar hidrologi berkaitan dengan pengelolaan DAS (daerah aliran sungai) dan banjir pada jurusan Geografi Universitas Cenderawasih, Yehuda Hamokwarong, kepada Jubi, Senin (15/2/2020), mengatakan, Keerom merupakan DAS yang cukup luas dengan tiga sungai utama, yaitu, Sungai Skamto di barat, Sungai Tami di tengah dan Sungai Bewani di timur.

Secara hidrologi, kawasan Arso yang kerap tergenang air memang merupakan kawasan genangan air. Namun, luasan genangan air semakin luas dan muka air lebih tinggi terjadi akibat deforestasi hampir di setiap sisi hulu, hilir, hingga muara ketiga sungai itu.

jubi.co.id


BERITA TERKAIT