Pemerintah Kota Jayapura Sebut Banjir dan Longsor Tanggung Jawab Developer
JUBI.CO.ID | 19/01/2022 11:16
Pemerintah Kota Jayapura Sebut Banjir dan Longsor Tanggung Jawab Developer
Ilustrasi banjir. ANTARA/Iggoy el Fitra

Jayapura, Jubi – Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano mengatakan, banjir dan longsor yang terjadi di wilayah Organda Padang Bulan, Kelurahan Hedam, Distrik Heram akibat ulah developer yang membuat permukiman warga tidak memperhatikan dampak ke depannya.

“Banjir seharusnya tanggung jawab developer, karena tidak membangun tanggul dan drainase yang baik,” ujar Tomi Mano di GOR Waringin Jayapura, Selasa (18/1/2022).
Dikatakan Tomi Mano, developer (perumahan) membeli lahan kepada pemerintah terdahulu untuk dijadikan permukiman warga, sehingga dampaknya saat turun hujan 1 atau 2 jam terjadi banjir.

“Ini pengawasan yang lemah dari pemerintah, tidak hanya bekerja di belakang meja tidak melihat ke lapangan. Langkah awal kami dengan membongkar rumah sewa di sepanjang bantaran kali dan sungai (Paldam). Saya minta Satpol PP segera surati (pemilik bangunan) untuk membongkar sendiri atau pemerintah yang bongkar,” ujar Tomi Mano.
Dikatakan Tomi Mano, Belanda sudah membuat peta untuk Indonesia, daerah yang tidak boleh dibangun atau dijadikan permukiman warga, karena merupakan kawasan water pool atau tempat penampung air, seperti di Padang Bulan Organda, Youtefa, dan SMU 4 Jayapura.

“Organda, Pasar Youtefa, dan SMA 4 ini merupakan daerah terparah terjadinya banjir. Saya minta warga tidak lagi membuang sampah sembarangan, penyempitan kali dan sungai (bangunan liar) penyebab terjadinya banjir karena tidak bisa menampung tumpukan sampah,” ujar Tomi Mano.

Kepala Balai Wilayah Sungai Papua, Nimbrot Rumaropen mengatakan, banjir terjadi karena sungai tidak pernah dikeruk akibat timbunan sampah dan lumpur, sehingga luapan air menenggelamkan tanah atau daratan lain yang biasanya kering.

“Banjir terjadi ketika hujan turun terus menerus dan mengakibatkan meluapnya aliran sungai yang sudah tidak mampu menampung beban air yang besar. Pengerukan merupakan langkah pasti untuk mencegah banjir kembali terjadi,” ujar Rumaropen.

Rumaropen menambahkan, BWS Papua sudah melakukan langkah-langkah dengan pengerukan kali dan sungai yang menjadi langganan banjir yang ditargetkan rampung hingga 31 Januari, seperti di wilayah Entrop, Pasar Youtefa, Organda Padang Bulan, Paldam.

jubi.co.id


BERITA TERKAIT