Tidak Nyaman, Pedagang Tinggalkan Pasar Jokowi di Doyo Baru
JUBI.CO.ID | 03/08/2022 11:40
Tidak Nyaman, Pedagang Tinggalkan Pasar Jokowi di Doyo Baru
Penyemprotan disinfektan di Pasar Mama Papua di Jayapura-Jubi/Alex.

Sentani, Jubi – Kepala Kampung Doyo Baru, Marice Yapo mengatakan para pedagang Pasar Jokowi di Kampung Doyo sejak 2019 sudah meninggalkan pasar. Para pedagang meninggalkan pasar itu karena tidak merasa aman dan nyaman meninggalkan barang dagangannya di pasar itu.

"Pasar ini, [Pasar Jokowi] los dan bangunannya sudah menjadi tempat tinggal. Tidak ada pedagang sejak 2019 lalu,” ujar Yapo di Kantor Kampung Doyo Lama, Distrik Waibhu, Kabupaten Jayapura, Senin (1/8/2022).

Sebagai Kepala Kampung, Marice Yapo pernah gelar Rapat Dengar Pendapat dengan para pedagang dan pengurus pasar. Para pedagang pasar merasa pengelolaan pasar itu tidak sesuai kondisi yang mereka harapkan, sehingga mereka memilih pergi meninggalkan pasar.

“Banyak orang mabuk, barang dagangan yang tersimpan di los jualan juga sering hilang pada malam hari. Dampaknya, banyak pedagang yang merasa rugi dan keluar dari pasar itu,” jelasnya.

Yapo menyatakan hingga kini belum ada kejelasan status lahan yang dijadikan pasar itu, karena pembayaran ganti rugi persil tanah yang dijadikan pasar belum dilunasi pemerintah daerah. Hal itu membuat Yapo tidak bisa menata pengelolaan pasar tersebut. “Kecuali lahan sudah menjadi aset pemerintah daerah, tidak mungkin ribut dengan pemilik hak ulayat terus, ” katanya.

Menurutnya, sebagian besar pedagang dari Pasar Jokowi memilih berjualan di jalan masuk Markas Kepolisian Resor Jayapura atau Jalan Polres. Sementara pedagang lainnya memilih kembali berjualan di Pasar Baru dan Pasar Lama Sentani.

“Sebagian yang berjualan di pasar kaget di Jalan Polres sudah kami tertibkan dengan membuat pasar sementara di pinggir ruas jalan masuk Kampung Doyo Baru. Sebagiannya nanti, Jumat dan Sabtu mendatang,” katanya.

Salah satu pedagang kelapa parut di Pasar Jokowi, Abidin perdagangan di Pasar Jokowi awalnya sangat bagus dan menguntungkan. Akan tetapi, suasana pasar berubah menjadi tidak nyaman. Ia bahkan kehilangan mesin pemarut kelapa.

“Dari [menjual] parutan kelapa, sekarang [saya] jualan ikan, karena mesin parutan kelapa dicuri saat pasar tutup dan kami semua kembali ke rumah masing-masing. Esok paginya, setelah tahu mesin dicuri, los kelapa parut tutup hingga saat ini,” kata Abidin.

 

**