Menanti Buka Puasa di Bukit Jokowi
JUBI.CO.ID | 31/05/2018 16:16
Menanti Buka Puasa di Bukit Jokowi
Laman Facebook WIM Motor mengunggah foto Presiden Jokowi sedang mengendarai sepeda motor listrik saat berkunjung ke Kabupaten Asmat, Papua, Kamis, 12 April 2018. Motor listrik itu diduga model Zero 8i buatan WIM Motor. (facebook WIM Motor)

DI BAWAH terang purnama, Senin sore menjelang malam, 28 Mei 2018 kami berbincang-bincang dengan pengelola Bukit Jokowi, di kawasan Skyline, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura.

Gerimis membuat pengunjung berkemas dan berbincang-bincang di dalam pondok. Ada yang mengetik. Ada pula yang sekadar foto-foto ria untuk mengabadikan panorama lautan pasifik, teluk Youtefa, bulan purnama, dan perkampungan warga dan pulau Kosong.

Purnama masih bersembunyi di balik awan. Cahayanya masih malu-malu menerangi para pengunjung. Seakan bertabrak dengan lampu-lampu pondok.

Melihat purnama di bukit Jokowi, ditemani angin yang sejuk, serta jauh dari kebisingan sembari menikmati es kelapa muda adalah sebuah keniscayaan.

Bukit Jokowi merupakan satu dari sejumlah obyek wisata atau tempat rekreasi bagi warga Kota Jayapura dan sekitarnya. Di sini pengunjung tak menikmati aroma lautan, pasir bersih atau sekadar mandi dari orang yang berjubel.

Pengelola Bukit Jokowi, Erik Korwa, mengatakan biasanya pengunjung menikmati keindahan alam, udara sejuk, es kelapa muda, makanan ringan seperti ubi goreng dan pisang goreng.

Namun, selama bulan puasa ini--terutama mereka yang beragama Islam--sekadar berefreshing dan berbuka puasa saat sore atau magrib tiba.

“Ada teman-teman duduk sampai sore baru buka puasa di sini. Banyaklah, ada sekitar 20 orang,” katanya.  

Menurut dia, banyak pengunjung yang merasa senang ketika ke lokasi ini. Hari biasa tak terasa banyaknya pengunjung. Bisa diperkirakan sekitar 20 sampai 50 orang tiap hari.

Namun, saat liburan atau Sabtu dan Minggu saban pekan, mereka berdatangan. Sampai-sampai areal parkir terlalu kecil untuk kendaraan sejumlah lebih dari lima pulu buah.

“Di luar bulan puasa bisa iya. Selain alam, di sini jualan kopi, kelapa, mie rebus, pisang goreng, singkong goreng. Kalau kelapa biasa jual Rp 15 ribu,” katanya.

Kelapa muda yang dijajakan di sini didatangkan dari kawasan Koya, Distrik Muara Tami dan Arso, Kabupaten Keerom. Sehari beliau bisa membeli lebih dari 100 buah.

Meski hanya menjual makanan ringan, es kelapa muda, ia pernah menjual papeda, sebab peminatnya sedikit. Pernah dicoba. Tapi, lagi-lagi peminatnya hanya dihitung dengan hari tangan.

“Masyarakat lebih suka makanan ringan,” kata Korwa.

Dulunya kawasan ini hanya ditumbuhi ilalang. Seiring waktu berjalan, tahun 2014, Presiden Joko Widodo mengunjungi jembatan penyeberangan Hamadi-Holtekam.

Di sela-sela kunjungannya, orang nomor satu di Indonesia itu, di bukit ini, ia melihat pemandangan Teluk Youtefa.

Sejak kala itu, terbersit rencana Korwa untuk membuka tempat rekreasi. Sekadar bersantai ria sambil menikmati es kelapa muda bersama angin yang menyapa lembut.

“Waktu itu Presiden datang minum kelapa muda di sini. Saya namakan bukit Jokowi karena beliau naik ke sini,” kenangnya.

Korwa tak menampik jika bukit Jokowi sedang viral di jagat maya semisal instagram, facebook, youtube, dan blogspot. Ia bahkan mengaku areal yang dikelolanya ini dapat menginspirasi para seniman, orang-orang muda, dan penari, untuk melakukan aktivitasnya di sini, diterangi bulan purnama. 

Meski begitu, kawasan ini dikelolanya secara mandiri. Tak ada dukungan dari sponsor. Bahkan awalnya ia rela meminjam uang dengan menggadaikan motornya.

“Kita ini pengusaha lemah yang coba kelola. Kita gadai BPKB (Barang Bukti Kendaraan Bermotor) motor. Ada (pinjam) Rp 5 juta, Rp 25 juta. Sampai sekarang motor rusak. Tuhan kasih jawaban untuk usaha ini,” katanya.

Pria paruh baya asal Biak ini berencana memperluas Bukit Jokowi. Parkiran diperluas. Pondok dibuat dua lantai. Disediakan tempat sampah. Apalagi mempersiapkan PON XX tahun 2020.

Dalam seminggu ia menjual minuman dan makanan ringan. Namun, selera pengunjung juga berbeda. Serta tergantung cuaca.

“Kalau 300 buah berarti (penghasilan) Rp 1,5 juta. Ini untuk mencukupi kehidupan sehari-hari,” kata bapak empat anak ini.

Selain mencukupi kehidupan sehari-hari ia bahkan dapat memberdayakan orang asli Papua (OAP). Ada yang tukang jaga parkir, penjual minuman, dan petugas kebersihan.

“Uang yang didapat juga untuk kebersihan. Buat pondok,” katanya.

Dan dia sedang berusaha membuat WC. Bunga-bunga dibeli. Ada Matahari. “Pengunjung biasanya anak-anak muda, bahkan ada orang tua yang sekadar cari udara segar. Ada yang lumpuh datang,” katanya.

“Tempat ini untuk semua orang,” katanya sembari berpesan, pengunjung hendaknya tidak sedang mabuk saat ke sini.

Bagi dia, menepi di bukit ini tak sekadar untuk berekreasi. Lokasinya sangat strategis. Dari jantung kota Jayapura, dapat ditempuh selama kira-kira tiga puluh menit dan lima belas menit dari kawasan Abepura, melalui jalan raya Jayapura-Sentani.

Pengunjung juga bisa ke lokasi ini melalui jalur alternatif di kawasan Waena-Entrop dan Jayapura melalui kantor wali kota dan Kodam--jika menghindari kemacetan. Seorang pengunjung, Markus, mengaku baru saja menikmati pemandangan di Bukit Jokowi. Ia bahkan tertarik dengan panorama dan keteduhan di sini.

Maka dari itu, Markus meminta agar lokasinya ditata lebih bagus lagi, diperluas, dan disiapkan tempat sampah, dan toilet.

“Tempatnya memang asyik. Sunyi dan bisa menimati hamparan samudera Pasifik,” kata Markus. (*)


BERITA TERKAIT