Pemudik di Sragen yang Ngeyel Masih Keluar Rumah Bakal Dijebloskan ke Rumah Hantu
JOGLOSEMARNEWS.COM | 20/04/2020 12:10
Pemudik di Sragen yang Ngeyel Masih Keluar Rumah Bakal Dijebloskan ke Rumah Hantu
Penampakan gudang kosong di Desa Sepat Masaran Sragen yang digunakan sebagai rumah isolasi atau rumah hantu untuk mengarantina pemudik yang nekat bandel tidak mau menaati aturan karantina mandiri di rumah. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Meningkatnya kasus corona virus atau covid-19 di Sragen dengan status kejadian luar biasa (KLB) membuat warga dan Pemdes makin ekstra waspada.

Tak hanya pemantauan terhadap kedatangan pemudik dari luar kota, pengawasan terhadap kepatuhan pemudik atau pelaku perjalanan (PP) untuk karantina mandiri selama 14 hari pun juga diperketat.

Bahkan, sejumlah desa menerapkan trik khusus demi mendisiplinkan warga pemudiknya untuk taat karantina mandiri. Setelah Desa Bedoro Sambungmacan membuat stiker, kali ini di Desa Sepat, Masaran lebih ekstrim lagi.

Warga dan Pemdes sepakat menerapkan sanksi tegas bagi pemudik atau PP yang bandel karantina mandiri dengan memasukkan ke rumah kosong yang disebut dengan istilah rumah hantu.

Rumah hantu yang disiapkan itu merupakan bangunan kosong bekas gudang barang milik Kades Sepat yang sudah lama tak ditempati.

“Iya, ceritanya kemarin ada satu warga PP yang mudik tapi bandel dan masih keluar rumah. Warga sampai judeg mengingatkan dan lapor ke sini. Akhirnya diambil tindakan tegas, sepakat dibuatkan rumah isolasi di bangunan kosong bekas gudang di Dukuh Pucuk situ. Kebetulan itu sudah lama nganggur nggak ditempati akhirnya saya jadikan rumah isolasi,” papar Kades Sepat, Mulyono, Jumat (17/4/2020).

Ide rumah isolasi di gedung kosong yang kemudian banyak disebut rumah hantu itu, dilakukan untuk menggugah kesadaran pemudik untuk mau mengarantina mandiri setiba di rumah.

Jika ada pemudik yang bandel dan tak bisa mengindahkan mengkarantina mandiri di rumah selama 14 hari, maka warga sudah sepakat akan menjemput paksa dan menjebloskan ke rumah hantu.

Mulyono menegaskan tindakan jemput paksa itu dilakukan semata-mata untuk mencegah penyebaran corona virus dan menjaga wilayahnya tetap steril.

Apalagi jumlah pemudik atau PP di Desa Sepat paling banyak di Kecamatan Masaran.

Sampai hari ini tadi, data yang tercatat di Posko Covid-19 Desa Sepat, jumlah pemudik yang tiba mencapai 193 orang. Mereka mayoritas dari Jabodetabek dan luar Jawa.

Ide rumah hantu itu juga selaras dengan prediksi aliran pemudik di Sepat yang diperkirakan akan terus meningkat mencapai kisaran 300an orang mendekati lebaran nanti.

“Malah warga yang kemarin pada usul dibuatkan rumah hantu itu. Karena namanya orang banyak, kesadaran untuk taat aturan kan beda-beda. Tapi dengan ide rumah hantu itu ternyata cukup efektif. Kemarin warga yang bandel itu setelah didatangi dan ditegasi pilih karantina di rumah atau dijebloskan ke rumah hantu, akhirnya dia manut dan mau karantina mandiri. Jadi nggak jadi dijemput dan dimasukkan ke rumah hantu,” tutur Mulyono.

Meski terkesan seram, ia menegaskan bahwa ide warga dan Satgas itu semata-mata hanya sebagai syok terapi demi ketaatan terhadap aturan.

Sebab sebenarnya setiba di desa, para perantau harus mendatangi posko Covid-19 dulu untuk didata, diperiksa dan membuat surat pernyataan sanggup mengarantina mandiri 14 hari.

“Toh juga untuk kepentingan dan kebaikan bersama. Alhamdulillah sejak kita buat seminggu lalu, sampai hari ini rumah hantu itu masih kosong. Karena yang bandel akhirnya jadi manut karena nggak mau dimasukkan ke rumah hantu,” tandasnya.

Sementara, pantauan JOGLOSEMARNEWS.COM , rumah hantu itu dalam kondisi tertutup rapat dan terlihat memang sudah lama tak ditempati. Suasana dari luar juga tampak pengap dan gelap.

Gagasan rumah hantu di Sepat Masaran itu juga disampaikan Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati. Saat menyampaikan imbauan kepada pemudik, ia mengatakan pihaknya tak menolak kedatangan pemudik karena semua adalah warga Sragen.

Hanya saja, ia meminta agar semua menjaga diri di perjalajan dan menaati aturan karantina mandiri di rumah selama 14 hari setiba di kampung halaman.

“Yang penting apapun instruksi pemerintah ditaati. Ya jaga jarak, cuci tangan dan karantina mandiri sesampai di Sragen harus mau dikarantina mandiri dengan surat pernyataan,” paparnya ditemui di Rumdin Bupati.

Sebab jika sampai menolak karantina mandiri, maka di beberapa desa sudah menerapkan sanksi tegas.

“Kemarin waktu saya acara ke Desa Sepat Masaran, warga bilang kalau ada warga yang ngeyelnya minta ampun, dibilang suruh nggak keluar, masih nekat keluar. Mereka tanya kami boleh karantina di rumah kosong yang ada hantunya nggak Bu. Ya saya jawab kalau sudah tidak bisa ditolerir ya silakan saja dikarantina di rumah kosong. Tapi pastikan tetap dikasih makan lho ya,” ujarnya sedikit tersenyum. Wardoyo

JOGLOSEMARNEWS.COM


BERITA TERKAIT