45 Tahun Pengabdian Sudarsono Merawat Ribuan Fosil Bengawan Solo
JOGLOSEMARNEWS.COM | 19/06/2020 09:10
45 Tahun Pengabdian Sudarsono Merawat Ribuan Fosil Bengawan Solo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Hegemoni Sragen sebagai salah satu tanah dengan jejak sejarah peradaban masa lampau agaknya bukan isapan jempol semata.

Selain keberadaan Museum Purbakala Sangiran yang sudah mendunia dengan koleksi fosil purbakala, kini publik dibuat terbelalak dengan koleksi ribuan fosil prasejarah milik salah satu warga Sambungmacan.

Adalah Sudarsono (62), warga Dukuh Ngadirojo, Desa Sambungmacan, Sragen yang mendadak menyita perhatian setelah memiliki koleksi ribuan fosil purba di rumahnya.

Koleksinya yang hampir 4.000 fosil tersebut berkali-kali ditawar kolektor hingga ratusan juta. Namun guyuran fulus dalam jumlah besar itu tak menggoyahkan Sudarsono.

Ditemui di rumahnya, pria paruh baya itu mengaku sejak awal memilih menyimpannya sendiri dengan alasan menjaga kelestarian. Menurutnya, ada lebih dari empat ribu fosil purba berbagai jenis dan bentuk tersebut kini dipajang di kamar tamu rumahnya.

Saking banyaknya koleksi, bapak satu anak ini mengaku sampai tak hafal jumlah pasti fosil purba miliknya. Namun berdasarkan catatannya, fosil purba tersebut terdiri atas berbagai jenis hewan, tumbuhan serta biota laut seperti teripang dan coral.

Sudarsono kemudian bercerita mulai mengoleksi fosil purba ini sejak tahun 1975. Fosil tersebut ditemukan di aliran Bengawan Solo yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari rumahnya.

Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo sendiri memang dikenal sebagai kawasan purbakala yang sarat dengan temuan fosil, sejalur dengan situs Sangiran serta Trinil Ngawi.

“Dulu awalnya sekitar tahun 1973, ada proyek pembuatan kanal sodetan Bengawan Solo. Waktu itu tujuannya untuk mengurangi banjir akibat meluapnya aliran sungai. Dari sodetan inilah saya mulai menemukan fosil dan mengumpulkannya sejak 1975,” ujar Sudarsono kepada JOGLOSEMARNEWS.COM di rumahnya, Rabu (17/6/2020).

Sudarsono menguraikan pembuatan sodetan tersebut dilakukan dengan membuat saluran sedalam 10 meter. Di dasar sodetan inilah, banyak fosil-fosil purba ditemukan.

Saat itu, ia mengaku tak mengetahui secara jelas nilai fosil yang ditemukannya.

“Awalnya hanya saya kumpulkan saja, siapa tahu nanti berguna. Dulu saya taruh di kebun, lalu kok banyak tamu yang datang untuk cari gitu-gitu (fosil). Lalu saya masukkan di rumah, saya buatkan rak sampai kemudian penuh ini,” jelasnya.

Sempat Dikira Gila

Ia juga tak menyangka jika hobinya mengoleksi tulang itu kini justru bernilai tinggi. Sebab di awal dahulu, ia tak sedikit dicibir oleh tetangga. Saat itu, banyak orang yang menganggapyya kurang waras karena memiliki hobi mengoleksi tulang belulang.

“Ya saya dikira gila. Karena ngumpulin tulang-tulang gituan. Dulu kan banyak yang belum paham,” kenangnya.

Namun semua cibiran itu tak membuatnya patah arang. Berkat ketekunannya merawat tulang purba yang ternyata bernilai prasejarah, kini justru melambungkan namanya sebagai kolektor fosil yang bernilai jual mahal.

Bahkan jika diestimasi, nilai fosil koleksinya itu barangkali mencapai miliaran rupiah. Seiring dengan koleksinya yang mulai terdengar, para tamu kemudian banyak.mendatangi rumahnya untuk melihat koleksi fosil Sudarsono.

Mayoritas di antara tamu adalah merupakan peneliti dan arkeolog. Banyak pula di antara peneliti itu bahkan datang jauh-jauh dari luar negeri seperti Amerika Serikat, Australia dan Jepang.

“Banyak yang tertarik jadi saya semakin semangat mencari fosil. Nggak terasa jumlahnya sudah lebih dari empat ribuan,” tukas Sudarsono.

Melihat nilai sejarah ribuan fosil itu, tak jarang beberapa tamu mencoba menggodanya dengan berniat menawar dengan harga fantastis.

Tawaran dari sepuluh juta hingga Rp 50 juta pada tahun 1990an pernah ditolaknya. Padahal nilai tersebut cukup besar di masa itu.

“Paling tinggi menawar hingga Rp 50 juta. Sekitar tahun 1990-an. Yang ditawar itu fosil gigi gajah purba. Umur fosilnya sekitar 1,8 juta tahun. Saya tolak,” tegasnya.

Sudarsono mengaku menolak tawaran menggiurkan tersebut, karena dari awal dirinya memang tidak ingin mencari untung dari kegemarannya mengoleksi fosil purba ini. Menurutnya, pendapatannya saat itu sebagai juru foto panggilan serta berjualan tanaman bonsai sudah mencukupi kebutuhannya.

“Kalau dijual, nanti hilang, rusak atau tidak dirawat. Fosil ini ilmu, untuk generasi selanjutnya. Saya cari bukan karena nilai materinya, tapi ilmunya tinggi sekali,” terang Sudarsono.

Sudarsono menyebut, koleksi fosil purba ini sudah atas sepengetahuan petugas berwenang. Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, bahkan berencana membantu pembuatan musium di rumahnya.

“Ini dari (BPSMP) Sangiran sudah mulai. Laporan sudah di kementerian pusat mau dibikinkan musium di sini,” pungkasnya. Wardoyo

JOGLOSEMARNEWS.COM


BERITA TERKAIT