Selain Punya Lawang Sewu, di Jateng Juga Ada Jalan Jeglongan Sewu, Bertahun-tahun Tak Kunjung Diperbaiki
JOGLOSEMARNEWS.COM | 22/06/2020 10:20
Selain Punya Lawang Sewu, di Jateng Juga Ada Jalan Jeglongan Sewu,  Bertahun-tahun Tak Kunjung Diperbaiki
Kondisi lubang menganga menghiasi jalur utama di Desa Gilirejo, Miri, Sragen (kiri). Sebuah truk terguling akibat terperosok jalan yang rusak di Gilirejo Lama (kanan). Foto kolase/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Potret miris ketimpangan pembangunan infrastruktur menyeruak di Sragen Barat. Di perbatasan Sragen-Boyolali tepatnya di Desa Gilirejo lama, Kecamatan Miri, jalur utama di desa tersebut dalam kondisi rusak parah.

Ironisnya kerusakan itu berlangsung sudah bertahun-tahun tanpa pernah ada perbaikan. Warga pun mengeluh lantaran kondisi jalan semakin parah dan dipenuhi banyak lubang mirip jeglongan sewu.

Tak hanya mengganggu akses warga, kondisi jalan yang super parah itu juga tak jarang menjadi sumber petaka warga.

“Sudah hampir 15 tahun rusak begini. Seingat saya, terakhir kali dibangun tahun 2005 dan nggak pernah ada perbaikan. Kalau hujan njeglong dan berkubang tambah parah, kalau kemarau gini juga menyusahkan,” papar Anto (45) warga Dukuh Gilirejo Lama, kepada wartawan, Sabtu (20/6/2020).

Menurutnya, jalur utama yang rusak parah itu merupakan jalan poros dan satu-satunya akses warga ke mana-mana.

Saking parahnya, sudah tak terhitung berapa kali warga dan pengendara yang terjatuh akibat kerusakan jalan. Bahkan dua hari lalu, sebuah truk juga terguling akibat terperosok lubang jalan yang menganga.

“Harapan kami, ada sedikit perhatian lah dari pemerintah. Kami juga warga Sragen dan Indonesia. Pajak kami juga tertib membayar, kenapa kalau jalan kami rusak nggak pernah ada perbaikan. Sudah 15 tahun kami menunggu,” urainya.

Kekesalan warga juga dilampiaskan dengan mengunggah foto-foto kerusakan jalan, lubang menganga hingga truk korban jeglongan ke media sosial (medsos).

Warga nekat menggungah ke media sosial dengan alasan selama ini tidak ada tindakan atau respon perhatian dari pemerintah atau dinas terkait.

“Warga bahkan urunan dan nanti hari Minggu dikerjabaktikan ngurug untuk nambal. Kalau nggak gitu nggak bisa dilewati Mas,” tambahnya.

Hal senada disampaikan oleh Didik (50) warga Gilirejo Lama, Miri, Sragen. Dia menyampaikan bahwa kerusakan jalan utama di wilayahnya itu berlangsunh sudah bertahun-tahun.

Bahkan sudah beberapa kali ganti pemimpin dan janji-janji politik dilontarkan, hingga kini semuanya hanya tinggal janji tanpa pernah ada realisasi.

“Sudah tiga kali ganti gubernur, 3 kali ganti bupati tidak juga dibangun. Warga sudah jenuh jadi korban politik. Dulu pas zaman Gubernur Mardiyanto, kami sampai ke Semarang dan dijanjikan kalau jalan akan segera diperbaiki. Sampai sekarang nggak ada perbaikan juga. Susahnya kalau hujan warga sering terjatuh dan banyak warga yang mengalami kecelakaan,” bebernya.

Didik menambahkan saking prihatinnya, warga dan pemancing yang melintas ke WKO lewat jalur itu, sampai urunan untuk membeli material untuk menambal kerusakan jalan.

Terpisah, Kades Gilirejo Lama, Parjo tidak menampik akan kondisi akses jalan di wilayahnya yang mengalami rusak parah. Menurutnya status jalan itu memang jalur milik kabupaten.

Namun ia menyebut jalan itu rusak parah sejak 2011. Ia juga menyampaikan kerusakan itu kali terakhir disampaikan ke kepala DPU saat Peringatan Hari Jadi Sragen akhir Mei lalu.

“Katanya kalau tidak diangaran perubahan 2020 ini, ya di anggaran 2021 tahun depan,” ucapnya.

Saat ditanya akan aksi warga melakukan perbaikan jalan secara mandiri di sepanjang jalan masuk desa Gilirejo, ia membenarkan.

“Kemarin pada urunan baik dari sopir- sopir sama di bantu warga. Harapannya segera diperbaiki karena rusaknya sudah parah,” ujarnya. Wardoyo

JOGLOSEMARNEWS.COM


BERITA TERKAIT