Lulusan STT Telkom Hanya Setahun Bekerja di Telkom, Banting Setir Bisnis Kedai Kopi
JOGLOSEMARNEWS.COM | 01/12/2020 11:20
Lulusan STT Telkom Hanya Setahun Bekerja di Telkom, Banting Setir Bisnis Kedai Kopi
Tiyo, alumnus STT Telkom asal Karanganyar yang sukses dengan bisnis kopinya di Map Coffe. Foto/Beni

KARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM – Tak selamanya ilmu sekolahan berbanding lurus bisa bekerja dibidangnya alias sesuai relnya. Namun ternyata bisa dan mahir bekerja dibidang lain diluar disiplin sekolahnya.

Itulah potret Muhammad Arief alias Tiyo (29) warga Dusun Getas RT 05/09, Desa Jaten, Kecamatan Jaten, Karanganyar yang sukses membuat kedai kopi bertitel Map Coffe.

Kedai kopi itu terletak di rumahnya sendiri di Jaten yang dibuka sejak 2015 lalu. Sekitar setahun ini booming dikunjungi banyak penggemar kopi.

Salah satu keunggulan kedai kopi ini adalah rasanya enak dan menunya sangat komplet variatif. Yakni menjual menu kopi asli seluruh Nusantara dari Sabang sampai Merauke.

Selain itu sistem pengolahannya pun alami yakni disangrai dengan mesin sendiri sehingga dari hulu sampai hilir kopi mentah menjadi matang tersaji benar-benar diolah sendiri alamiah.

Adapun keunggulan lainnya adalah Tiyo menjual kopi alami asli dari petani seluruh Indonesia. Sehingga banyak menu variatif eksentrik yang menarik para pecinta kopi.

“Map Coffe ini beroperasi sejak 2015 tahun lalu, dan sekarang mulai rame hingga 100 orang pengunjung per hari,” ujarnya.

Menurut Tiyo, harga yang ditawarkan terjangkau mulai paling rendah Rp 10 ribu hingga harga paling mahal Rp 20 ribu per cup.

Dengan harga begitu akhirnya merakyat dan terjangkau sehingga Map Coffe yang dibuka sejak pukul 10.00 WIB hingga Pukul 22.00 WIB itu sangat ramai dikunjungi pecinta kopi.

“Yang datang ke sini terdiri para anak muda hingga dewasa apalagi selama masa pandemi ini kalangan muda lebih sering ngopi sambil online,” tandasnya.

Tiyo menjelaskan sebelum pandemi, Map Coffe menjual kopi impor dari Ethiopia, Brazil dan negara Afrika lainnya.

Harga kopi impor saat itu Rp 25 ribu hingga Rp 45 ribu per cup. Namun setelah pandemi covid dirinya tidak lagi melayani kopi impor karena pertimbangan ekonomi.

“Saat ini kami melayani dua jenis kopi saja yakni Arabica dan Robusta dengan berbagai varian,” imbuhnya.

Adapun tentang riwayat Map Coffi, Tiyo menjelaskan dirinya setelah lulus dari STT Telkom lulus dan sempat bekerja di Telkom sebagai staf biasa dan tak sampai setahun keluar.

Selanjutnya Tiyo yang awalnya seorang penggemar kopi ini melanjutkan kursus menjadi peracik kopi atau disebut Barista.

Selama dua tahun, Tiyo menimba ilmu di tempat kursus meracik kopi di berbagai kota. Yakni di Bandung, Pati, Jogja dan Jawa Timur.

Setelah itu pada 2015 Tiyo pulang kampung dan membuka kedai kopi Map Coffe dirumahnya. Setelah dua tahun berjalan Tiyo membesarkan usahanya dengan modal Rp 400 juta secara bertahap untuk belanja modal.

“Kini saya syukuri Map Coffe berkembang pesat dengan rasa serta tempatnya yang alami ala omah jawa,” pungkasnya. Beni Indra

JOGLOSEMARNEWS.COM


BERITA TERKAIT