Sudah 13 Petani Sragen Tewas Kesetrum Jebakan Tikus, Kapolsek Langsung Preteli Kawat di Sawah
JOGLOSEMARNEWS.COM | 06/03/2021 19:02
Sudah 13 Petani Sragen Tewas Kesetrum Jebakan Tikus, Kapolsek Langsung Preteli Kawat di Sawah
Ilustrasi sawah kekeringan

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Perangkap jebakan tikus berlistrik terus memakan korban jiwa. Meski berbagai imbauan dan larangan dilontarkan, keganasan setrum jebakan tikus tetap saja terus dan terus terulang.

Sempat tiga bulan mereda, kasus serupa kembali terjadi pagi ini, Sabtu (6/3/2021). Adalah Mbah S, petani berusia 60 tahun asal Desa Gabus, Kecamatan Ngrampal, Sragen yang menjadi korbannya.

Petani malang itu ditemukan meregang nyawa di persemaian sawahnya dengan tubuh luka bakar kesetrum jebakan tikus yang dipasangnya sendiri.

Petani paruh baya itu ditemukan tewas sekitar pukul 09.00 WIB. Diperkirakan korban sudah meninggal satu jam sebelumnya namun baru ketahuan jam 09.00 WIB.

Buntut dari kejadian itu, Polsek Ngrampal pagi tadi langsung melepas semua kawat yang dipasang mengelilingi persemaian padi di sawah korban.

Kapolres Sragen AKBP Yuswanto Ardi melalui Kapolsek Ngrampal, AKP Lukman Tri Novianto mengatakan setelah melakukan olah TKP, pihaknya juga langsung melepas kawat-kawat yang dipasang untuk jebakan tikus di sawah korban.

Menurutnya, sebenarnya pihaknya sudah pernah melakukan penertiban dan melepas kawat-kawat jebakan tikus berlistrik di areal Desa Gabus Ngrampal beberapa bulan lalu. Namun tak mengira jika masih ada yang kembali nekat memasang.

“Tadi sudah kita lepas kawat-kawat yang dipasang di sawah lokasi kejadian. Kami juga pasang imbauan dan MMT larangan serta bahaya memasang perangkap tikus beraliran listrik di beberapa lokasi. Harapan kami, petani dan masyarakat benar-benar berhenti dan mematuhi,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Sabtu (6/3/2021).

Kapolsek menuturkan pelepasan kawat di areal lokasi kejadian dilakukan oleh perangkat desa dan warga sekitar. Namun pihaknya juga ikut membantu melepas kawat dan memastikan bahwa kawat dan perangkap tikus sudah dibersihkan.

“Tadi saya menyaksikan sendiri dari perangkat dan warga sekitar dan saya sendiri yang melepas. Kalau kita lihat, saat itu juga mereka langsung kita suruh lepas. Sebenarnya itu kawat listrik yang dipasang di persemaian benih,” terangnya.

Mbah S ditemukan tewas tergeletak di persemaian dan tubuhnya menjuntai membujur ke pematang. Insiden bermula ketika keluarga curiga korban yang pamit sejak pagi, tak kunjung pulang. Saat dicari ke sawah, korban ternyata sudah ditemukan terbujur kaku di dekat pematang dan tersangkut kabel beraliran listrik untuk jebakan tikus.

Menurut Kapolsek, insiden itu memang sangat disayangkan. Sebab sebelumnya sudah beberapa kali terjadi insiden serupa dan merenggut korban jiwa.

Kemudian di areal sawah lokasi kejadian, sebelumnya juga pernah dilakukan penertiban dan pelepasan kawat serta kabel setrum jebakan tikus ketika pernah ada kejadian serupa beberapa waktu lalu.

Terlebih, Polsek juga sudah tak henti melakukan sosialisasi dan imbauan terkait bahayanya pemasangan setrum jebakan tikus dan dampak hukum jika sampai menimbulkan korban jiwa.

“Kami sudah maksimal dan tak henti sosialisasi dan memasang imbauan agar tidak memasang setrum jebakan tikus. Di lokasi kejadian, dulu juga sudah kita pasang MMT dan tulisan himbuan agar tidak pasang jebakan tikus. Ternyata masih ada juga,” tandasnya.

Karena korban tewas kali ini juga sekaligus pemasang dan pemilik sawah, Kapolsek memastikan tidak bisa diproses hukum. Pihaknya hanya menegaskan dan berharap masyarakat dan petani yang masih memasang jebakan tikus beraliran listrik segera berhenti.

Setelah dievakuasi, jenazah korban tadi pagi langsung dibawa ke rumah duka dan diserahkan kepada kerabat. Jenazah selanjutnya akan dilakukan pemakaman di pemakaman umum setempat.

Tewasnya Mbah S menambah panjang daftar korban tewas jebakan tikus di Sragen. Dari catatan  JOGLOSEMARNEWS.COM , Mbah S menjadi korban tewas ke-13 yang meregang nyawa oleh perangkap setrum beraliran listrik di berbagai wilayah di Sragen dalam kurun setahun terakhir. 

joglosemarnews.com


BERITA TERKAIT