Harga Jatuh, Petani Tembakau di Boyolali Merugi
JOGLOSEMARNEWS.COM | 01/08/2021 20:30
Harga Jatuh, Petani Tembakau di Boyolali Merugi
08-nas-RUU-Pertembakauan

BOYOLALI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Harapan petani tembakau rajangan di kawasan Boyolali untuk meraup rupiah, ternyata meleset. Pasalnya, harga tembakau jatuh karena pertumbuhan tembakau tidak maksimal.

“Sayangnya, harga panen jatuh karena dampak anomali musim. Kami rugi,” ujar Sumarno (56), petani tembakau asal Dukuh Tegalwire, Kelurahan/Kecamatan Mojosongo, Minggu (1/8/2021).

Diakui, tanaman tembakau seluas 1.000 meter persegi miliknya sebenanya sudah laku atau ditebas pembeli. Namun, dia masih bertanggungjawab memelihara tanaman, utamanya membuang pucuk tanaman.

Tujuannya agar sari makanan tidak digunakan untuk pembentukan daun baru. Tanaman tembakau tersebut hanya laku Rp 1 juta sehingga tak bisa menutup biaya tanam.

”Bagaimana lagi, kalau saya panen sendiri malah repot. Masih merajang dan menjemur serta menjual. Jadi terpaksa saya berikan.”

Senada, Dalyono (60) penebas tembakau asal Dukuh Tegal, Kelurahan/Kecamatan Mojosongo mengaku harga tebasan tembakau di ladang kali ini tidak sebaik panen tahun lalu. Pasalnya, tembakau banyak yang mati akibat perubahan musim.

“Saat awal tanam kurang air, namun saat pertumbuhan daun justru diguyur hujan deras.”

Sebagai perbandingan, tahun lalu harga tebasan tembakau bisa mencapai Rp 10 juta- Rp 15 juta untuk luasan lahan 3.000 meter persegi. Namun panen kali ini maksimal hanya Rp 7,5 juta untuk luasan yang sama.

“Untuk mengehmat biaya, tembakau saya rajang dan dijemur sendiri bersama keluarga. Beruntung matahari bersinar terik sehingga proses pengeringan tembakau tidak mengalami kesulitan. Maksimal dalam dua hari, tembakau rajangan sudah kering.

“Kalau untuk penjualan tidak masalah. Sudah ada bakul yang datang. Tembakau bagian bawah ditawar Rp 40 ribu/kg dalam kondisi kering. Kalau daun bagian atas harganya Rp 70.000 per kilogram,” ujarnya.

joglosemarnews.com


BERITA TERKAIT