Kemarau Memuncak di Wonosamodro Boyolali, Warga Konsumsi Air Tak Layak
JOGLOSEMARNEWS.COM | 14/10/2021 19:05
Kemarau Memuncak di Wonosamodro Boyolali, Warga Konsumsi Air Tak Layak
Warga melintasi jalan lama penghubung Kecamatan Eromoko dengan Baturetno di area Waduk Gajah Mungkur yang mengalami penyusutan debit air akibat kemarau di Wonogiri, Jawa Tengah, Selasa 4 September 2018. Menurut BPBD Wonogiri, sebanyak 31 desa di tujuh kecamatan di Kabupaten Wonogiri dilanda kekeringan sejak April lalu dan diprediksi akan berlangsung hingga November mendatang. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha

BOYOLALI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Meski saat ini sudah masuk bulan Oktober, namun dampak musim kemarau masih dirasakan oleh warga di kawasan Kecamatan Wonosamodro, Boyolali.

Akibat kekeringan yang memuncak, warga setempat pun terpaksa membeli air dari pengusaha air keliling dengan harga Rp 450.000/tangki dengan kapasitas 5.000 liter.

“Air bersih itu diambil dari sumber air di wilayah Kecamatan Karanggede,” ujar Camat Wonosamodro, Joko Suseno, Kamis (14/10/2021).

Dijelaskan Joko, ada tujuh desa yang masuk daerah rawan kekeringan di wilayah pemekaran dari Kecamatan Wonosegoro itu.

Tujuh daerah tersebut antara lalin Desa Bercak, Bengle, Garangan, Gunungsari, Kalinanas, Repaking dan Jatilawang.

“Sedangkan tiga desa lebih aman yaitu, Kedungipilang, Ngablak dan Desa Gilirejo. Untuk Desa Jatilawang, sebagian wilayahnya masih bisa mengandalkan sumber air atau sumur,” ujar Joko.

Dijelaskan, kekurangan air bersih menjadi persoalan yang lama yang terjadi setiap musim kemarau.

Pasalnya, kawasan Kecamatan Wonosamodro minim sumber air. Saat kemarau, warga sering membuat sumur di dasar sungai yang mengering.

“Kini juga ada bantuan dari BPBD Boyolali,” ujarnya.

Bagaimana dengan pengadaan air bersih dari PDAM? Joko mengaku PDAM terkendala ketiadaan sumber air.

Sehingga PDAM pun tak bisa melayani kebutuhan masyarakat. Sebagian warga pun memanfaatkan jaringan Pamsimas, itupun tidak bisa maksimal.

Sedangkan untuk pemanfaatan air Waduk Kedungombo juga sangat sulit. Selain terbentur perizinan, kondisi medan dan jauhnya jarak juga menjadi kendala. Belum lagi hambatan biaya pengolahan air.

Akhirnya, warga pun terpaksa memanfaatkan air yang kurang layak. Dicontohkan, pihaknya sudah membuat sumur untuk memenuhi kebutuhan air lingkup Kantor Kecamatan Wonosamodro. Ternyata airnya berasa asin.

“Juga bau karat. Sebenarnya untuk mengurangi bau karat, kami sudah membuat sistem penyaringan. Namun hasilnya tidak maksimal,” pungkasnya.

joglosemarnews.com


BERITA TERKAIT