Suksesi Mangkunegaran: Konflik Paundra dengan Bhre Meruncing, Roy Bisa Jadi Calon Alternatif
JOGLOSEMARNEWS.COM | 24/01/2022 11:06
Suksesi Mangkunegaran: Konflik Paundra dengan Bhre Meruncing, Roy Bisa Jadi Calon Alternatif
Para abdi dalem Pura Mangkunegaran melakukan kirab peringatatan malam 1 Sura di Pura Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, Jumat malam, 24 Oktober 2014. TEMPO/Aditia Noviansyah

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM —Kemelut konflik menjelang suksesi Pura Mangkunegaran kembali mencuat terutama antara pihak GPH Paundrakarna Jiwo Suryonegoro dengan kubu lain istri almarhum KGPAA Mangkonegoro IX, Gusti Kanjeng Putri (GKP) Prisca Marina beserta putranya GPH Bhre Cakrahutomo.

Munculnya konflik dua kubu itu tidak kondusif untuk suksesi atau pergantian kepemimpinan di Pura Mangkunegaran yang didirikan oleh Pangeran Sambernyawa atau Raden Mas Sahid Tahun 1757 atau 265  tahun lalu.

 Sesuai budaya Jawa, faktor harmoni keselarasan itu sangat penting. Dikhawatirkan belum jumeneng nata atau adipati sudah memunculkan konflik, maka perlu dicari sosok figur kandidat Mangkunegara X yang terbebas konflik.

Analisis itu disampaikan Raden Surojo, sejarawan yang juga pegiat budaya Mangkunegaran kepada wartawan, Minggu (23/1/2022). “Figur yang selama ini relatif bersih dari konflik ada pada kandidat Mangkunegara X lainnya yakni Kanjeng Raden Mas Haryo (KRMH) Roy Rahajasa Yamin,” ujar Surojo.

Yang penting, lanjut Raden Surojo, musyawarah dulu antar keluarga inti atau Dewan Pinisepuh. Dibahas terlebih dahulu kriteria sebagai  MN X itu bagaimana setelah itu baru menunjuk figur yang pas dengan kriteria.

“Saya yakin masalah suksesi Mangkunegaran akan mendapat solusi, di antaranya munculnya calon yang kompeten bersih dari konflik seperti KRMH Roy Rajasa Yamin ,”ujar Surojo.

Seperti diketahui menjelang suksesi Pura Mangkunegaran ada tiga kandidat Mangkunegara X di antaranya GPH Paundrakarna Jiwa Suryanegara, GPH Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo dan cucu Adipati Mangkunegara VIII yakni KRMH H Roy Rahajasa Yamin.

Menurut Surojo, nama KRMH H Roy Rahajasa Yamin memiliki kelebihan nilai positif dibanding kandidat lain. Yakni, ia mampu sebagai pimpinan adat budaya sekaligus panutan bagi segenap kerabat Mangkunegaran yang didirikan melalui peperangan panjang Pangeran Sambernyowo didukung Punggawa Baku Kawan Doso melawan penjajah.

“Figur Mangkunegara X haruslah yang terbaik. Berwibawa, bisa ngayomi kawula, punya kemampuan manajerial dan itu nampaknya hanya pada Kanjeng Roy Rahajasa,” papar Raden Surojo seraya menambahkan sebagai Pengageng Mangkunegaran harus  bisa mengatasi masalah konflik, bukan malah menjadi bagian dari konflik itu sendiri.

Menanggapi lontaran tajam Gusti Paundra yang ditulis Gusti Paundra di instagram pribadinya @gphpaundra1, diakui Surojo mengagetkan sejumlah kalangan. Paundra menilai Bhre Cakrahutomo adalah boneka ibunya (GKP Prisca Marina-Red).

Paundra juga menyebut dirinya adalah putra tertua dari Mangkunegara IX. Paundra menilai ibu tirinya yang notabene permaisuri Mangkunegara IX, Prisca Marina dianggap ingin terus berkuasa. Hal itu  tersirat ada problem yang lebih besar muncul  di Pura Mangkunegaran.

“Ternyata problem di Pura Mangkunegaran layaknya gunung es. Selain adanya keterpurukan  ekonomi menyusul diambil alihnya dua pabrik gula milik Mangkunegaran yang menguntungkan yakni Pabrik Gula (PG) Tasikmadu dan P.G Colomadu, sumber penghasilan utama Pura Mangkunegaran yang hilang.

Ada juga indikasi ketidakharmonisan putra Mangkunegara IX dari istri Sukmawati yakni Gusti Paundra dan adiknya Gusti Menur yang berseberangan dengan ibu tirinya yang berstatus prameswari yakni GKP Prisca Marina dengan putranya Gusti Bhre dan adiknya Gusti Ancilla Sura.

Surojo sejarawan pegiat budaya menyarankan kalau konflik terus meruncing antara kubu Paundra melawan kubu Bhre. Maka jalan tengah pilih calon yang tidak terlibat pusaran konflik yakni Kanjeng Roy Rahajasa.

Memilih pengageng Pura Mangkunegaran di era milenial sekarang ini problemnya lebih complicated alias lebih rumit. Meski juga bisa dibuat mudah bila sosok kandidat Adipati Mangkunegaran menguasai masalah. “Dan dapat melakukan telaah manajemen prioritas untuk menyelesaikan masalah yang kini dihadapi seluruh kerabat Mangkunegaran,” katanya.

Kehadiran Roy yang dikenal ahli ekonomi bisa diibaratkan saat pemerintahan Mangkunegoro V. Di mana saat itu perekonomian Mangkunegaran terpuruk banyak berhutang ke berbagai pihak.

Akhirnya Mangkunegoro V digantikan oleh adiknya yang dikenal ahli manajerial perekonomian dan militer  yakni GRM Suyitno yang akhirnya bergelar KGPAA Mangkunegoro VI.

Di bawah kendali Mangkunegoro VI situasi perekonomian Pura Mangkunegaran yang sempat terpuruk bangkit lagi. Bahkan hutang-hutang yang sempat menggunung akhirnya dilunasi.

joglosemarnews.com