Angkutan Umum di Sragen Hanya Tinggal 5 Persen
JOGLOSEMARNEWS.COM | 21/09/2022 14:30
Angkutan Umum di Sragen Hanya Tinggal 5 Persen

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kondisi dunia transportasi umum di Sragen dirundung duka. Sempat berjaya puluhan tahun silam, kini bisnis transportasi baik angkutan kota (angkot) maupun angkutan desa (angkudes), berada di titik nadir. Ribuan angkot dan angkudes yang pernah beroperasi, kini tak lagi terlihat di jalanan. Diperkirakan, hanya tinggal 5 persen saja angkutan yang masih bertahan, namun itu pun dengan kondisi kembang kempis.

Hal tersebut diungkapkan Kepala UPTD Pengujian Kendaraan Bermotor (PKB) Dishub Sragen, Junaedhi. Kepada JOGLOSEMARNEWS.COM, Selasa (20/9/2022), ia mengatakan tak bisa dipungkiri dunia jasa transportasi umum di daerah, termasuk Sragen, memang tengah terpuruk. Banyak trayek angkutan yang sudah mati karena sepi penumpang dan makin menurunnya animo masyarakat memakai jasa transportasi umum.

“Kalau ratusan ya ada (yang sudah berhenti). Ini seperti fenomena nasional. Banyak angkutan yang hilang dan berhenti. Ya karena situasi sudah tidak bisa bertahan,” paparnya.

Junaedhi memperkirakan saat ini hanya tinggal 5 persen saja angkutan yang masih bertahan. Itu pun dalam kondisi ibarat hidup segan mati tak mau.

Saat ini yang bertahan hanya beberapa angkot di jalur 02, Pasar Bunder-Bulu dan jalur 01, Pasar Bunder-Pilangsari. Kemudian beberapa minibus antar kecamatan seperti Sragen-Sukodono, Sragen-Gesi, Sragen-Batujamus dan beberapa jalur antar kecamatan lainnya. Namun jumlahnya pun makin berkurang dan tinggal sedikit.

Selebihnya, 95 persen lainnya sudah berhenti beroperasi. Hal itu ditandai dengan menghilangnya angkutan secara riil di lapangan maupun dari pengujian.

“Sekarang bisa dilihat. Di jalan-jalan kan sudah makin nggak ada angkutan melintas. Dulu hampir tiap trayek atau jalur selalu ada angkot. Kami juga nggak tahu, karena mereka juga nggak melapor. Apakah sudah rusak, atau dirombak jadi kendaraan pribadi, atau dimutasi ke luar daerah,” urainya.

Ia tak memungkiri kemajuan peradaban dan kemudahan kredit kendaraan bermotor, menjadi faktor yang menggerus animo menggunakan jasa transportasi umum.

Sepinya penumpang ditambah beratnya beban biaya operasional angkutan yang makin naik (termasuk kenaikan BBM), menghadirkan dilema dan membuat para pengusaha angkutan makin terpuruk.

“Yang bertahan pun, bisa kita lihat kadang angkot itu sehari hanya jalan setangkep (satu kali PP) ngantar anak sekolah atau orang ke pasar saja. Selebihnya kalau sudah agak siang sudah nggak ada penumpang dan milih berhenti,” ujarnya.

Sebelumnya, Ketua DPC Organda Kabupaten Sragen, Eko Sudarsono juga mengungkapkan kondisi miris yang dialami dunia jasa transportasi umum di Sragen.

Karenanya pihaknya sempat membuat surat keberatan ketika Pemprov Jateng menerbitkan surat rekomendasi mutasi kendaraan yang selama ini ditangani di kabupaten, diambil alih oleh provinsi.

“Pengusaha angkutan ini ibarat hidup segan mati tak mau. Kalau mau mutasi saja harus mengurus rekomendasi ke provinsi, apa ndak makin memberatkan. Atau sengaja ingin menikam Organda biar ambruk,” katanya.

 

**


BERITA TERKAIT