Pencairan BLT UMKM Sebabkan Antrean, DPRD Sukabumi: Bank Minim Inovasi
SUKABUMIUPDATE.COM | 21/04/2021 11:13
Pencairan BLT UMKM Sebabkan Antrean, DPRD Sukabumi: Bank Minim Inovasi
Warga mengantre untuk mencairkan bantuan langsung tunai (BLT) dari pemerintah di kantor pos di Bandung, Jawa Barat, 22 Mei 2020. BLT diberikan pemerintah untuk membantu masyarakat yang kondisi ekonominya terdampak pandemi virus Corona. TEMPO/Prima Mulia

SUKABUMIUPDATE.com - Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Sukabumi Anwar Sadad menilai bank penyalur Bantuan Langsung Tunai (BLT) UMKM masih minim inovasi.

Pasalnya, politisi PKB itu melihat masih sering terjadi antrean panjang pencairan BLT UMKM di bank yang ditunjuk sebagai penyalur. Antrian tersebut, kata Anwar, kerap mengundang kerumunan.

"Membludaknya antrean warga penerima BLT UMKM sebesar Rp 1,2 juta di bank penyalur karena minimnya inovasi. Saya berharap ini tidak menimbulkan masalah baru, terutama berkaitan dengan pandemi COVID-19 seperti sekarang ini," kata Anwar Sadad kepada sukabumiupdate.com, Rabu, 21 April 2021.

Ia pun tak tega melihat masyarakat harus dibuat antre sambil panas-panasan dan berdesak-desakan saat mau mencairkan bantuan dari pemerintah tersebut.

"Saya rasa pihak penyalur harus lebih memanusiakan calon penerima. Warga terpaksa harus berdesak-desakan dan melanggar protokol kesehatan. Bahkan ada di beberapa lokasi menimbulkan kemacetan pengguna jalan," ujarnya.

"Kondisi tersebut tidak akan terjadi apabila pihak bank mau berinovasi. Contoh kecil misalnya dilaksanakan di GOR atau apalah. Di kantor bank hanya untuk kegiatan normal biasa. Kalau memungkinkan, masyarakat calon penerima jangan disuruh datang ke bank, namun ke lokasi lain yang lebih leluasa. Mau enggak mau, supaya antrean bisa dipecah, tidak membludak seperti yang terjadi hari ini," tegasnya.

Anwar tak jarang juga menemukan ada beberapa warga yang datang sejak semalam sebelum hari pencairan agar tidak ketinggalan antrean.

"Menurut saya itu menyiksa. Kami berharap kepada penanggung jawab dari pihak bank penyalur untuk memecah lokasi pembagian bantuan agar tidak ada lagi antrean yang membeludak. Jangan menyiksa orang," kata Anwar.

"Pemerintah sedang mencari solusi agar daya beli masyarakat dan perekonomian masyarakat terus tumbuh, namun jangan menimbulkan masalah baru. Semaksimal mungkin harus dihindari mudharat baru yang lebih besar, atau istilah populer di kalangan pesantren adhororu yudfau' a'laa qodri imkani, artinya kemudharatan dihilangkan semaksimal mungkin meskipun tidak seluruhnya hilang," pungkas Anwar Sadad.

sukabumiupdate.com


BERITA TERKAIT