Lebaran, Warga Diimbau Tak Terbangkan Balon Udara
KRJOGJA.COM | 22/04/2021 22:32
Lebaran, Warga Diimbau Tak Terbangkan Balon Udara
Peserta menerbangkan balon udara saat mengikuti Festival Balon Udara Ponorogo di Lapangan Jepun, Balong, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Kamis, 21 Juni 2018. Festival ini digelar untuk meminimalisir penerbangan balon udara secara liar selama perayaan Lebaran 2018. ANTARA/Siswowidodo

WONOSOBO,KRJOGJA.com- Bahaya menerbangkan balon udara secara ilegal terus disosialisasikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonosobo bersama pihak AirNav Indonesia. Potensi bahayanya sangat tinggi, bukan hanya mengganggu aktivitas lalulintas penerbangan pesawat saja, tetapi juga membahayakan keselamatan penerbangan karena balon udara ukuran besar bisa terbang hingga di atas 40.000 kaki. Apalagi langit-langit di Jawa Tengah merupakan jalur sentral yang memiliki aktivitas penerbangan sangat padat.

Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat bersama Kapolres Wonosobo AKBP Ganang Nugroho W dan pimpinan OPD, ketika memberi keterangan pers, Kamis (22/4/2021), mengungkapkan bahwa sejauh ini pihaknya terus melakukan koordinasi dengan pihak AirNav Indonesia. “Intinya, kami tidak ingin kecolongan lagi dengan adanya penerbangan balon udara tradisional yang terbang bebas hingga ketinggian 40.000 kaki. Kami mengajak masyarakat pecinta balon udara di Wonosobo bisa menerbangkan balon udara dengan cara ditambatkan menggunakan tali yang kuat, sehingga tidak mengganggu dan membahayakan aktivitas penerbangan,” paparnya.

Bagi para pelanggar, jelas Bupati, ada ancaman hukumannya yang cukup serius. Berdasarkan Pasal 53 ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 2009, tentang Penerbangan, disebutkan bahwa setiap orang dengan sengaja menerbangkan atau mengoperasikan pesawat udara yang membahayakan keselamatan udara diancam pidana penjara paling lama 2 tahun dan denda paling banyak Rp 500 juta. “Tentu kami tidak ingin melihat ada masyarakat pecinta balon udara di Wonosobo yang sampai berurusan dengan hukum karena melanggar aturan atau menerbangkan balon udara secara ilegal,” ujarnya.

Sebagai solusi, paparnya, penerbangan balon udara tradisional tetap boleh dilakukan dengan persyaratan khusus sehingga aman dan tidak membahayakan aktivitas penerbangan. Salah satunya balon udara diterbangkan harus ditambatkan dengan tali yang kuat, balon udara tidak boleh diterbangkan dalam radius 15 km sekitar Bandara, ketinggian balon udara maksimum 150 meter. Terpenting lagi adalah tetap mematuhi protokol kesehatan pencegahan penularan Covid-19, sehingga ketika potensi terjadi kerumunan massa, maka lebih baik tidak dilakukan. “Kami berjanji jika situasinya sudah aman dan kondusif, akan kembali menggelar festival balon udara yang dilalukan secara benar sesuai aturan,” ujarnya.

Terkait larangan penerbangan balon udara ilegal tersebut, Bupati juga telah memerintahkan jajaran OPD terkait serta para camat untuk menyampaikan kepada masyarakat luas, agar tidak lagi menerbangkan balon udara ilegal. Termasuk berkoordinasi dengan aparat keamanan TNI-Polri dan Satpol PP, agar potensi penerbangan balon udara ilegal tidak terjadi lagi pada perayaan Lebaran tahun ini. Apalagi masih dalam situasi pandemi Covid-19, maka berbagai kegiatan berpotensi menjadi ajang kerumunan massa juga dilarang.

“Melalui para Camat, kami akan memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait larangan penerbangan balon udara ilegal. Bahkan upaya sosialisasi akan kami lakukan hingga ke tingkat RT dan RW di setiap wilayah, khususnya kepada kelompok-kelompok pemuda karena mereka yang biasanya membuat dan menerbangkan balon udara,” pungkasnya.

krjogja.com


BERITA TERKAIT