Sejumlah Desa di Lereng Merapi Mulai Krisis Air Bersih
KRJOGJA.COM | 16/10/2021 12:24
Sejumlah Desa di Lereng Merapi Mulai Krisis Air Bersih
Warga antre mengambil air di sumur resapan di Kampung Gunung Batur, Cilegon, Banten, Sabtu, 19 Oktober 2019. Warga mengaku kesulitan mendapatkan air bersih sejak tiga bulan terakhir akibat kemarau hingga harus antre hingga tiga jam untuk mendapat giliran mengambil air bersih di sebuah mata air yang berjarak sekitar satu kilometer dari pemukiman mereka. ANTARA

BOYOLALI, KRjogja.com – Memasuki musim kemarau tiba, sejumlah desa di lereng Gunung Merapi tepatnya di Kecamatan Tamansari, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah mengalami kekeringan dan krisis air bersih. Jumlah desa di kecamatan Tamansari ada 10 desa.

Dari 5 (lima) desa di kaki gunung Merapi tersebut, Desa Sanggup, Lanjaran, Mrian, Sumur dan Desa Jemowo. Mereka biasanya mengandalkan air tadah hujan.

Hal tersebut diungkapkan, Camat Tamansari Wur Laksono, sampai saat ini sebagian masyarakat di lima desa yang sering kekurangan air bersih sudah berupaya membuat tandon air yang cukup besar, namun, ketika musim kemarau datang masih kekurangan air bersih.

“Mereka itu sudah membuat tandon air yang cukup besar, tapi ya masih kekurangan air juga. Biasanya selain mengandalkan bantuan air dari pemerintah Boyolali juga para relawan yang peduli membantunya,” kata Wur Laksono, saat ditemui wartawan di lingkungan kantor Kecamatan Tamansasri, Jumat (15/10/2021).

Wur Laksono mengatakan,sampai saat ini sebagian masyarakat di lima desa yang sering kekurangan air bersih sudah berupaya membuat tandon air yang cukup besar, namun, ketika musim kemarau datang masih kekurangan air bersih.

“Mereka itu sudah membuat tandon air yang cukup besar, tapi ya masih kekurangan air juga. Biasanya selain mengandalkan bantuan air dari pemerintah Boyolali juga para relawan yang peduli membantunya,”katanya.

Kebutuhan air bersih untuk warga kaki gunung Merapi, kata dia, selain untuk kebutuhan konsumsi sehari hari juga untuk kebutuhan hewan ternak mereka. “Kalau durasi kemarau itu agak lama, air mereka juga habis juga. Karena air tersebut untuk ternak juga,” ujarnya.

Terkait hal itu, pihaknya mengaku sudah koordinasi dengan bagian Kesra (Kesejahteraan Rakyat), Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD) dan PMI. “Kami sudah koordinasi dan rapat terkait kurangnya air bersih di lima desa di kecamatan Tamansari itu. Jadi hasilnya pemdes membuat permohonan yang disampaikan Pak Bupati,” kata Wur Laksono.

Ia menambahkan, belum lama ini sudah dilakukan dropping air bersih desa Sumur dan desa Mrian dari BPBD dan PMI. “Dalam minggu minggu ini, dua desa sudah di dropping air bersih dari PMI dan BPBD,” pungkasnya.

krjogja.com


BERITA TERKAIT