Perang Bubat Bukan Menjadi Alasan Perpecahan Jawa-Sunda
KRJOGJA.COM | 02/12/2021 15:02
Perang Bubat Bukan Menjadi Alasan Perpecahan Jawa-Sunda

SLEMAN, KRJOGJA.com – Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil bertemu Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang juga Raja Kraton Yogyakarta, Sri Sultan HB X di Prambanan, Rabu (1/12/2021) malam. Kedua pimpinan daerah ini membicarakan tentang jalinan persaudaraan Sunda-Jawa serta rencana kerjasama di bidang industri kreatif.

Sultan mengatakan dendam masa lalu paska terjadinya Perang Bubat sudah bukan waktunya lagi diperdebatkan. Menurut Sultan, kejadian tersebut yang belum tentu kebenarannya terjadi sudah lebih dari 700 tahun silam dan berangkat dari situasi di masa berbeda dengan saat ini.

“Dalam narasi sejarah manuscript Indonesia kan ga ada, mungkin juga gak pernah ada makanya bagi saya apapun yg terjadi itu sudah 700 tahun lalu. Abad 13 ya sekarang abad 20 sudah 700 tahun kan gak ada urusannya kita sebagai bangsa ya kan. Kenapa kita punya dendam yang tidak pernah selesai. Kita sebagai satu bangsa tidak memperlihatkan itu. Biarpun itu kita persoalkan mungkin masalah mempersatukan Indonesia, ya beda gitu loh dengan sekarang, kita bersatu dari kesadaran sebagai bangsa. Kalau jaman Majapahit kan karena penaklukan bukan karena kesadaran. Kan beda. Sehingga apa, kita perlu kritis, bahwa jaman ini sudah berbeda. Jadi mestinya kita ya meninggalkan hal-hal yang menghambat kita sebagai bangsa kan gitu. Menatap masa depan, jangan menoleh ke belakang terus,” ungkap Sultan.

Sultan sendiri mengagendakan untuk bertolak ke Bandung pada 6-7 Desember mendatang. Ia mengaku hendak berjalan-jalan keliling Bandung dan melihat bagaimana situasi Kota Kembang saat ini.


Sementara, Ridwan Kamil menyampaikan apresiasi luar biasa karena DIY akhirnya memiliki Jalan Padjajaran dan Jalan Siliwangi, yang selama ini tidak pernah ada. Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil berharap sinergi budaya ini bisa berlanjut ke depan dengan hal-hal yang lebih konkret dan produktif bagi DIY maupun Jawa Barat.


“Di Jogja sudah ada Jalan Siliwangi dan Padjajaran, di Bandung sudah ada Jalan Hayam Wuruk dan Majapahit. Di masa Sri Sultan ini perwujudan penguatan sinergi dua budaya Jawa dan Sunda konkret. Nah lanjutannya, babak berikutnya adalah saling kunjung-mengunjungi kemudian menguatkan,” sambung Emil.

Emil sendiri menilai sinergi DIY dan Jawa Barat sudah terbangun secara tidak langsung selama ini. Kini, banyak masyarakat Sunda yang berada di Jogja, begitu pula sebaliknya.

“Orang Sunda di Jogja juga banyak, besok saya ke asrama Pasundan. Kemudian bisnis orang Jogja di Bandung juga banyak. Semoga narasi baik muncul bahwa simbol Jawa Sunda, Jawa Barat dengan Jogja menjadi penyejuk saat situasi di negeri ini kadang panas atau bising membesarkan perbedaan,” tandas Emil.

krjogja.com


BERITA TERKAIT