Tiga Menteri Canangkan Hutan Keistimewaan Nangka di Gunungkidul
KRJOGJA.COM | 30/01/2022 16:07
Tiga Menteri Canangkan Hutan Keistimewaan Nangka di Gunungkidul
Ilustrasi Hutan di Jawa Barat. TEMPO/Fardi Bestari

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com – Menteri Koordinasi Politik Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkopolhukam) Prof Dr H Mahfud MD mengungkapkan, pemerintah memberikan apresiasi prakarsa pencanangan Hutan Keistimewan Nangka di Gunungkidul Yogyakarta. Menjadi refleksi keistimewaan melestarikan bahan baku buah nangka sebagai potensi sumber daya tanaman maupun kearifan lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sekaligus memulihkan lingkungan.

“Hal ini sejalan untuk mewujudkan pengelolaan hutan dalam mendukung ketahanan pangan,” kata Prof Dr Mahfud MD dalam acara Pencanangan Hutan Keistimewaan Nangka di RPH Candi Kapanewon Karangmojo, Sabtu (29/01/2022).

Kegiatan dihadiri Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr Ir Siti Nurbaya MSc, Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Badan Pertanahan Nasional (BPN) Dr Sofyan Jalil MALD, Gubernur DIY Sri Sultan HB X, Bupati Gunungkidul H Sunaryanta, forkopimda, undangan. Pencanangan ditandai penandatangan prasasti dan penanaman bibit nangka.

Kawasan hutan seluas 30 hektar ini dikembangkan nangka 10.000 batang dan petai 2.000 batang. Bersamaan dilepas sebanyak satwa 6 ekor elang.

“Pengembangan nangka mendukung kebutuhan gudeg 190 Usaha Kecil Menengah (UKM) rata-rata 9 sampai 10 ton per hari. Selain itu pohon nangka juga akan mendukung pelestarian budaya. Sebab salah satunya menjadi bahan baku untuk pembuatan kelengkapan gamelan,” ujarnya.

Mahfud MD menuturkan, inisiatif pengembangan hutan tematik jenis nangka sangat strategis mewujudkn pengelolaan hutan. Sehingga akan mampu mendukung ketahanan pangan. Kuliner gudeg yang terkenal di Yogyakarta akan semakin meningkat. Serta mendukung peran penting menyangkut dimensi politik, ekonomi, sosial dan budaya.

“Kebijakan ketahaan pangan menjadi isu sentral focus utama dalam pembangunan. Seiring dengan pertamabhan jumlah penduduk dan kesempatan kerja guna memperoleh pendapatan yang layak. Pohon nangka yang dapat menjadi bahan untuk gamelan akan mendukung eksistensi ketahanan budaya. Karena ternyata banyak dari negara yang mengimpor gamelan dari Indonesia,” jelasnya.

Gubernur DIY Sri Sultan HB X menambahkan, pemda DIY menyampaikan terimakasih atas terealisasinya pembibitan nangka maupun petai di Yogyakarta. Usaha industry mebel tidak mungkin menjual eksport kayu jati menerus, sehingga alternatifnya kayu putih dari nangka dan kayu putih dari pohon petai.

Nantinya tidak hanya khusus untuk gudeg memenuhi permintaan masyarakat Yogyakarta ataupun wisatawan. Kayu nangka menjadi bahan untuk membuat kendang gamelan.

Semuanya dari pohon nangka tidak bisa disambung-sambung, baik dari ukuran besar, tanggung dan kecil. “Sehingga pohon nangka ini juga akan mendukung pelestarian gamelan,” ucapnya.

krjogja.com


BERITA TERKAIT